APP 4 Wilayah Yohanes: Kesehatan Mental itu Penting!

28 Maret 2023
  • Bagikan ke:
APP 4 Wilayah Yohanes: Kesehatan Mental itu Penting!

Woro-woro yang disebarkan untuk APP IV.

“Mengapa kesehatan mental itu penting? Karena manusia diciptakan Allah tidak hanya sebagai makhluk jasmani tetapi juga sebagai makhluk rohani yang keduanya menjadi satu kesatuan. Kondisi mental yang terganggu dapat termanifestasi ke dalam perilaku sehari-hari seorang manusia dan menyebabkan dia kesulitan memahami dan mengambil keputusan,” jelas pemateri pada Pertemuan APP Wilayah Yohanes.

Pertemuan APP 4 ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Pertemuan APP 2023. Sejak pertemuan APP 1, tiga lingkungan di Wilayah Yohanes mengadakan pertemuan per lingkungan sesuai tema dari KAJ.

foto4-cover

Joni Hiwono sedang memimpin ibadat.

Dikarenakan tema APP 4 yang dianggap penting dan perlu untuk diketahui seluruh umat di wilayah Yohanes, maka penyelenggaraannya disatukan menjadi kegiatan wilayah dan dibawakan oleh Paulus Joni Hiwono sebagai Pamong Sabda dan Valiant Dewangga Prijatna, S.Psi, selaku pemateri, OMK Wilayah Yohanes yang berlatarbelakang pendidikan psikologi.

Pertemuan APP 4 yang penuh makna ini dihadiri oleh 65 umat yang terdiri dari berbagai usia, dari anak-anak hingga umat senior. Termasuk dihadiri oleh Kaling Yohanes 1 FX Sudarno, Kaling Yohanes 2 Clara Wijiarsih, Kaling Yohanes 3 Ignatius Giyarto, dan Korwil Yohanes Ignatius Budi Prabowo.

foto8

Valiant Dewangga Prijatna, S.Psi, pemateri.

Dalam sambutannya di awal acara, mas Budi Prab (sapaan akrab Korwil Yohanes) menekankan perlunya kita mengasah kepedulian kepada sekitar kita. “Jangan hanya peduli pada diri sendiri, tapi perhatikan juga istri atau suami, anak-anak, asisten rumah tangga, juga tetangga sekitar. Siapa tahu mereka membutuhkan bantuan kita sebagai support system untuk kesehatan mental. Kesadaran akan hal ini harus terus-menerus digaungkan, oleh karena itu mari kita dengarkan dan perhatikan apa yang akan disampaikan oleh pemateri kita nanti,” ajak mas Budi Prab.

Pemahaman tentang Mental

Mental adalah berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi emosi dan kejiwaan pada manusia yang terjadi karena adanya aktivitas dalam otak, yang dapat terwujud dalam kepribadian dan perilaku seseorang. Seperti kesehatan fisik, kesehatan mental ini dapat berkembang dan perlu dirawat. Hal ini dipelajari melalui ilmu psikologi.

foto 6 (2)

Ibu-ibu mendengarkan dengan seksama soal parenting.

Menurut Erik Erikson, seorang psikolog Jerman, ada delapan tahap perkembangan mental manusia: Tahap Prenatal (janin usia 38-42 minggu dalam kandungan), Tahap Early Childhood (usia 60 tahun). Dari ke delapan tahap ini, yang paling mempengaruhi perkembangan mental seseorang adalah tahap pertama sampai ke empat.  

Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) mengenai penderita gangguan mental penduduk berusia >15 tahun di Indonesia, lebih dari 19 juta menderita gangguan emosi, lebih dari 12 juta menderita depresi. Gangguan mental juga banyak ditemui pada usia remaja 13 tahun hingga 18 tahun dengan 22% menderita gangguan mental berat.

foto3- (2)

Umat menyanyikan lagu pembukaan.

“Disitulah pentingnya peran orangtua untuk membentuk, mengembangkan dan merawat mental anak-anaknya dengan penuh kesadaran dan cinta kasih. Peran ini harus benar-benar dijalankan dan dikomunikasikan antar ayah dan ibu agar anak-anak dapat memperoleh dukungan dari kedua orang tuanya,” papar Valiant.

Mengapa peran orangtua amat penting bagi anak-anaknya? “Karena salah satu penyebab dari gangguan mental adalah lack of parenting, pola asuh yang tidak tepat,” tambah Valiant. Kalimat tersebut sontak membuat banyak reaksi berbeda dari umat yang hadir. Di kalangan orangtua ada yang mengangguk-angguk, ada yang kaget dan merasa tidak percaya, juga banyak yang lalu menerawang jauh ke belakang. Sementara kalangan anak-anak muda yang hadir kebanyakan tersenyum-senyum penuh arti.

foto5-_4

Bapak-bapak juga serius mendengarkan.

Tahun 2022, Jurnal Europian Archives of Psychiatry and Clinical Neuroscience menyebutkan bahwa trauma psikologis selama masa anak-anak meningkatkan risiko gangguan mental hingga tiga kali lipat lebih besar saat memasuki usia dewasa. Mental yang sehat dapat menumbuhkan kesadaran diri, memaksimalkan potensi, menangani stres, belajar dan bekerja lebih baik serta berkontribusi pada kehidupan sosial di komunitasnya.

Sebaliknya mental yang kurang sehat dapat menghilangkan rasa pede, menumbuhkan keegoisan, mendatangkan ketidakpedulian, menyebarkan ketakutan, merusak relasi dengan sesama dan pada akhirnya menghambat kemajuan bersama. “Apakah kita peduli pada kesehatan anak-anak sebagai generasi penerus? Mari kita sama-sama mulai menyadari karena sekarang saya hanya bisa mengajak, belum menjadi orang tua,” ujar Valiant sembari tersenyum.

Kaitan dengan Kesehatan Spiritual

foto7- (3)

Menyimak pemaparan materi.

Kondisi mental yang terluka, sakit atau terganggu umumnya memberi dampak kesedihan dan keputusasaan yang muncul secara terus-menerus. Orang yang mengalami hal ini akan cenderung kesulitan mengontrol diri dan susah berpikir rasional. Mereka juga akan sulit untuk menerima, meresapi, merefleksi dan mengamalkan ajaran agama. Bahkan sangat berpotensi untuk memunculkan perilaku-perilaku menyimpang atau tidak benar dari kesalahpahaman mereka terhadap ajaran agama.

Sebuah fakta menarik yang terlihat adalah tingkat religiusitas yang tinggi dapat mengurangi risiko depersi, kecemasan dan perlaku menyimpang. Agama dengan ajaran, ritual, dan strukturnya dapat memberikan harapan dan tujuan positif karena menyediakan hubungan/relasi antarmanusia yang berkeyakinan sama. Ayat-ayat dalam Alkitab juga terbukti banyak membantu memberi kekuatan dalam menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan.

foto 1_1

Pak Y Teguh Suprijatna (ayah Valiant) dan Pak Paulus Joni serius mengikuti sesi.

Lalu bagaimanakah peran kita dalam menjaga kesehatan mental dan spiritual? “Dimulai dari kesadaran akan hal tersebut lalu mulai menambah wawasan dan literasi soal kesehatan mental spiritual, mengevaluasi kondisi mental diri sendiri, membaca serta mengamalkan ayat-ayat alkitab, dan biasakan untuk berkomunikasi dua arah pada sesama. Jika sudah, baru perluas awareness pada kondisi mental sekitar, mengurangi prasangka negatif atau prejudis, menjadi pendegar yang baik, menjadi support system bagi orang lain. Gereja katolik dengan strukturnya selama ini dapat menjadi tempat yang tepat untuk belajar mengenai kesehatan mental spiritual,” tutup Valiant. (tots, disarikan dari paparan APP 4 Wil Yohanes oleh pemateri)

Foto-foto: Wilayah Yohanes

Tags
APP

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna