Foto bareng orang-orang muda, peserta Pembekalan Pembina BIA dan Bir di Balai Metro Permata.
Dua pembawa materi Pembekalan Pembina BIA dan BIR dari Tandasalib.com mengaku bahagia menyaksikan orang-orang muda St Bernadet yang sangat antusias mengikuti acara itu di Balai Metro Permata, 6-7 Agustus 2022 lalu.
Dua orang itu adalah Kak Andre Wibawa dan Kak Johannes de Deo yang diminta kesan-kesannya usai pembekalan pada hari pertama, Sabtu (6/8).

Kak Andre.
Peserta pembekalan hari pertama mencapai 65 orang muda dari berbagai Wilayah di Paroki Pinang, baik pembina lama, yang baru ingin bergabung, maupun katekis lain yang memberikan pengajaran iman di paroki.
Kak Andre mengungkapkan, tingginya antusiasme itu membuat dia bahagia. Sebab, itu berarti bahwa masih punya harapan. Ia juga mengapresiasi kreativitas dan refleksi para peserta. “Semoga acara ini bisa rutin dilaksanakan paling tidak setahun dua kali. Karena perubahan zaman, cara kita membina juga berubah,” ucapnya.

Kak Deo.
Kak Deo mengaku bahagia juga dengan semangat para peserta. Sebab, mungkin banyak anak muda yang masih sekolah atau kuliah, tapi mereka mau datang ke acara itu.
“Kita anak muda harus terus mengeksplor wawasan. Jangan pernah ragu untuk melakukan sesuatu demi BIA dan BIR karena pertumbuhan iman awal kita kan dari BIA? Jadi kita semua di sini harapannya bisa terus semangat untuk mendampingi adik-adik kita yang sedang bertumbuh,” ujar Ka Deo.

Peserta bernyanyi bersama pada hari pertama.
Acara dua hari itu berjalan dinamis sehingga tidak membosankan, karena diwarnai nyanyi bersama, dinamika kelompok, games, dan ice breaking.
Tujuan acara ini, seperti dikatakan Ibu Theresia Eka Murti, Ketua Sie Katekese St Bernadet, adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kakak-kakak pembina BIA-BIR, agar pembinaan mereka menarik dan mudah dipahami anak-anak.

Peserta mengikuti ice breaking pada hari pertama.
Hari pertama dibuka oleh pemandu acara, Kak Rachel dan Kak Aurel, dilanjutkan dengan sambutan Ibu Theresia Eka Murti. Ia berharap, meski pembekalan hanya 2 hari, peserta dapat mengikutinya dengan semangat pelayanan, interaktif yang tinggi, dan dapat berkreasi lebih baik.
Materi-materi yang diberikan selama dua hari itu adalah: 1. Spiritualitas Pewarta Milenial; 2. Pendekatan dan Model Pewartaan Kekinian.; 3. Metodologi Praktis Mengajar Kreatif BIA dan BIR; 4. Perspektif Era Digital Pewartaan; dan 5. Microteaching: Rencana dan Pengajaran Kreatif.

Peserta mendengarkan paparan materi di hari pertama.
Di hari pertama sesi 1, Kak Andre membawakan topik “Teologi dan Spiritual, Refleksi Awal Perjumpaan Mesra dengan Allah”.
Kak Andre mengatakan, banyak manusia yang merasa tidak pantas melayani karena merasa memiliki banyak dosa. “Lihatlah Paulus, yang lebih berdosa dari padamu. Tuhan tetap mengampuni dirinya karena Tuhan selalu melihat kehendak baik manusia,” katanya dengan gaya dan ekspresi wajah seperti sedang bicara dengan anak-anak BIA.
Kak Andre menyarankan, jika punya masalah, kita berusaha tetap dekat dengan Tuhan agar mendapat pertolongan, sehingga hati kita terketuk untuk memberikan pelayanan.

Kak Ancella Lioktriani (Selni), pemateri hari kedua.
Di sesi 2 Kak Deo mengawalinya dengan permainan lempar-lemparan benda, seperti hand sanitizer, ponsel, dll. Pesannya adalah bahwa setiap manusia punya nilai di mata Tuhan. “Jadi tidak perlu merasa tidak pantas untuk melayani Tuhan,” tandasnya.
Menurut Kak Deo, seorang pembina yang baik itu CEKATAN, akronim dari Ceria, Empati, Kreatif, Atraktif, Teliti, Asyik, Ngangenin...
Kak Deo juga punya rumus sendiri bagaimana menjadi seorang katekis untuk anak-anak, yaitu: 1). mengajak nyanyi dan tepuk tangan; 2). menceritakan pengalaman manusiawi; 3). Menghubungkan pengalaman dengan Alkitab; dan 4) memberi pesan atau ajakan baik.

Peserta menunjukkan hasil gambarnya di hari kedua.
Pembekalan di hari kedua, 7 Agustus 2022, dihadiri 61 peserta. Pertemuan ini membahas Metode Praktis Proyek Kekinian BIA & BIR dengan pemateri Kak Ancella Lioktriani (Selni). Intinya ia mengajarkan metode berkomunikasi dengan anak-anak melalui gambar sehingga lebih dapat menarik dan mudah dipahami.

Dinamika kelompok: diskusi peserta di hari kedua.
Pertemuan hari kedua juga diisi dengan dinamika kelompok yang memberikan wadah bagi para peserta untuk mempraktikkan langsung dalam membuat materi dan aktivitas untuk anak dengan tema yang sudah ditentukan.

Romo Matius Pawai, CICM, mendukung dan memberi semangat peserta.
Romo Matius Pawai, CICM, memberikan kata pengantar sekaligus dukungan kepada para peserta. Ia berharap agar para peserta semakin bersemangat dalam melayani di paroki kita ini.
Teks: Karin, There/ Foto-foto: Jassen Novaris