Mereka yang hadir pada Temu Prodiakon Sabtu, 16 Juli 2022.
Banjir Sabtu 16 Juli 2022 yang melanda sebagian wilayah Ciledug dan Pinang tidak membatalkan Temu Prodiakon St Bernadet yang sudah diagendakan jam 09.00-11.00 hari itu. Kegiatan di Gereja Pinang ini dihadiri 43 Prodiakon.
Salah seorang Prodiakon yang rumahnya dilanda banjir, meski bersih-bersihnya belum tuntas benar, minta izin isterinya untuk datang ke acara ini karena ia merasa pentingnya materi yang akan disampaikan, khususnya Ibadat Kematian.

Doa Pembukaan oleh Bu Maria Melati.
Cuaca dingin dan rintik hujan yang masih mengguyur di sekitar Pinang sedikit menghangat berkat ice breaking yang dipandu Pak Bambang Gunadi dengan lagu anak-anak “Aku diberkati” yang ternyata menghibur para Prodiakon.
Peserta begitu bersemangat ketika melantunkan kalimat lagu sambil saling menunjuk: ”Kakek-kakek, nenek-nenek, tante-tante, om-om diberkati Tuhan…” Semua peserta mengikuti dan menikmati gerak dan lagu, termasuk Romo Lamma Sihombing, CICM.

Romo Lamma memberikan pengarahan.
Agenda pertemuan hari itu adalah evaluasi dan arahan dari Romo Paroki, Tata Gerak Prodiakon baik di Gereja Pinang maupun di Balai Metro, serta seputar Ibadat Kematian. Ada banyak masukan bermanfaat. Bukan hanya teori tapi juga praktik langsung.
Dalam sambutannya Romo Lamma berterima kasih kepada para Prodiakon atas seluruh pelayanannya dalam membantu Romo melayani umat, baik itu dalam menerimakan Sakramen Maha Kudus saat misa di gereja maupun penghantaran kepada umat yang membutuhkan. Juga atas pelayanannya dalam memandu Ibadat, terutama saat ada peristiwa kedukaan.

Penyampaian materi oleh Koordinator Prodiakon Pak Bambang Gunadi.
Romo Lamma juga mohon maaf, karena keadaan jadwal misa kadang masih berubah-ubah, baik di Gereja Pinang maupun di Balai Metro. Juga Prodiakon dalam bertugas dipindah-pindah, kadang di Balai Metro kadang di Pinang.
“Nah kalau ada Prodiakon yang merasa keberatan atas jadwal dan pelayanan ini dan pingin berhenti jadi Prodiakon silakan WA ke Mas Bambang sebagai koordinator atau langsung ke Romo,” kata Romo Lamma.

Gerak dan lagu untuk menghangatkan suasana.
Mendengar itu semua peserta terdiam dan saling tengok kanan-kiri. “Tetapi tentu permohonan semacam ini sudah pasti akan saya tolak,” lanjut Romo Lamma memancing ledakan tawa. Suasana pun tambah hangat dan semarak pagi itu.
Koordinator Prodiakon Pak Bambang Gunadi mengatakan bahwa Tata Gerak Prodiakon mengacu pada Pedoman Pelayan Liturgi untuk Prodiakon KAJ yang dikeluarkan oleh Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta.

Bukan sekadar teori, tata gerak pun langsung dipraktikkan.
Dua tempat yang berbeda kondisinya, Pinang dan Metro, membuat tata gerak juga tidak sama. Untuk Gereja Pinang, karena ada misa offline saja dan ada yang ditayangkan live streaming, tata gerak Prodiakon juga harus menyesuaikan.
Dalam pertemuan itu dipraktikkan tata gerak dari Sakristi menuju tempat duduk Prodiakon yang dipandu Pak Bambang.
Topik seputar Ibadat Kematian mendapat porsi bahasan cukup panjang. Dimulai dari kunjungan umat yang sakit, pendampingan menjelang kematian, perawatan jenazah, ibadat pemakaman, sampai peringatan arwah.

Paparan rangkaian Ibadat Kematian.
“Prodiakon itu tidak ada sekolahnya tetapi ketika kita dipilih atau ditunjuk menjadi Prodiokan, kita dianggap mampu dan tahu dalam banyak hal,” ungkap Pak Bambang. Itulah sebabnya, Prodiakon harus mau membiasakan diri banyak membaca berbagai buku rohani.
“Kita memang mempunyai 1 buku pegangan untuk memandu Ibadat, tetapi itu bukan satu-satunya. Bapak Ibu dipersilakan memiliki berbagai buku dari berbagai tema. Mencari buku buku Rohani Katolik yang benar itu gampang. Asal ada tertulis Nihil Obstat dan Imprimatur itu tandanya buku yang sah untuk digunakan,” terang Pak Bambang.

Romo Matius: pakaian resmi Prodiakon itu satu paket.
Sebelum berkat penutup, Romo Matius Pawai, CICM, menegaskan bahwa pakaian resmi seorang Prodiakon adalah Jubah/Alba dan samir. Tidak bisa hanya dipakai salah satu karena ini satu paket.

Doa Penutup oleh Pak Adrianus Dermawan.
“Misalnya memimpin Ibadat hanya menggunakan samir saja ini tidak boleh. Berbeda dengan Imam, saat memimpin doa atau memberikan berkat hanya menggunakan stola. Itu bisa karena stola adalah lambang Sakramen Imamat,” jelas Romo Matius.
Video Ice breaking yang menyemangati para peserta.
Teks/Foto/Video: Pengurus Prodiakon