Romo Lamma dan para petugas liturgi usai misa hari Sabtu sore (25/6) di Gereja Pinang.
Romo Lammarudut Sihombing, CICM, menengarai bahwa belakangan ini banyak umat yang telat datang ke misa offline. Telatnya bisa sampai 15 menit. Padahal untuk mengikuti Perayaan Ekaristi perlu persiapan diri. Karena itu ia mengimbau agar umat tidak telat datang ke misa.
Romo Lamma menyampaikan catatan tersebut usai misa Sabtu sore (25/6/2022) saat diminta kesan-kesan dan tanggapannya setelah sekian lama Paroki Pinang menyelenggarakan misa offline di masa pandemi.
“Umat itu sekarang kok suka telat ya? Misalnya misa jam lima sore, mereka datang jam lima lima belas. Ketika misa akan dimulai umat baru separo. Tidak tahu, apakah terlalu sore atau kesiangan jamnya? Telat 15 menit kan lumayan?” katanya.
Karena itu Pastor Kepala Paroki Pinang itu mengimbau, sebaiknya umat sebelum mulai misa sudah ada di gereja untuk mempersiapkan diri, karena Perayaan Ekaristi itu dimulai dari awal. “Mungkin kesadaran untuk mempersiapkan diri di gereja itu agak kurang, dianggap kurang perlu, padahal itu sangat perlu,” imbuh Romo Lamma.
“Sebenarnya kebiasaan ini (telat datang) dulu sebelum pandemi sudah terjadi. Kalau diundur jamnya saya yakin tetap terlambat juga, kalaupun dimajukan pasti terlambat juga,” katanya lagi sambil tersenyum.
.jpg?1656319606882)
Misa Minggu Biasa XIII di Gereja Pinang, Sabtu sore (25/6).
Romo Lamma juga menanggapi adanya umat yang sudah mendaftar belarasa tetapi absen datang ke misa offline.
“Sebenarnya ketika diizinkan untuk mengadakan misa offline bagi umat Santa Bernadet adalah kabar baik, meskipun khususnya untuk Gereja Pinang masih ada barcode-nya. Tapi mungkin karena satu dua hal, pasti ada yang tidak datang,” katanya.
Tentang hal tersebut Pastor Rekan Romo Matius Pawai, CICM, pernah mengimbau dalam suatu kesempatan misa agar umat yang sudah mendaftar belarasa berusaha datang karena banyak umat lain yang ingin ikut misa tetapi kehabisan kuota.
Dhea dari tim belarasa membenarkan bahwa selalu ada yang absen misa meski sudah daftar belarasa. “Banyak faktor penyebabnya. Bisa tidak datang karena alasan tertentu atau belarasanya bermasalah ketika di-scan,” katanya ketika ditemui.
Dhea menunjukkan data misa bulan Juni 2022 di Pinang. Dari data itu terlihat di setiap misa selalu ada pendaftar belarasa yang tidak datang. Tapi dia mengatakan, kalau umat mengalami kendala, tim belarasa selalu siap membantu. “Misalnya jika orang tidak menerima notifikasi lewat imil,” katanya.
.jpg?1656319665811)
Paduan Suara Wilayah Fabiola yang bertugas dalam misa Sabtu (25/6) di Gereja Pinang.
Sementara itu Ketua Sub Seksi Pasdior, C Arum Pranastuti, mengaku optimistik dengan perkembangan pelayanan musik liturgi di Paroki Pinang meskipun belakangan jadwal misa offline sudah ditambah seperti sebelum pandemi.
Pembatasan kuota vokal untuk koor justru bisa melahirkan antusiasme dan kelompok-kelompok koor baru. “Misalnya karena kuota vokal dibatasi 12 orang, dari satu wilayah yang banyak anggota koornya bisa muncul dua atau tiga kelompok,” kata Mbak Arum, sapaan akrabnya.
Dia menghitung, sekarang ada 29 kelompok koor, dari 21 Wilayah dan 8 kategorial. “Untuk rotasi tugasnya baik di Pinang maupun Metro sudah tergambar meskipun saya bisa seharian mengerjakan penyusunan tugas,” katanya.
----.jpg?1656319708447)
Koor OMK-KKMK siap melayani misa untuk penggalangan dana pembangunan Gereja St Bernadet di Gereja Santa Maria de Fatima-Toasebio Jakarta Barat, Minggu (26/6).
Yang makan waktu bukan penyusunan jadwal melainkan konfirmasi kesanggupan wilayah dan urusan barcode peserta koor. “Proses konfirmasi barcode bisa bolak-balik,” katanya.
Namun Mbak Arum punya harapan akan semakin banyak muncul kader-kader muda untuk paduan suara dan regenerasi dirigen. “Sekaligus kita mempersiapkan gawe besar peresmian gereja,” katanya.
Teks: ps/ Foto-foto: ps, Adi