Romo Matius mempersembahkan misa mohon kesembuhan dan ucapan syukur, Kamis (3/3).
Misa dengan intensi memohon kesembuhan bagi umat St Bernadet yang sedang terpapar Covid-19 dan ungkapan syukur umat yang telah sembuh dari penyakit itu diadakan via Zoom pada hari Kamis, 3 Maret 2022, mulai pukul 19.00.
Misa atas undangan Bidang Kerohanian Tim Pusat Penanggulangan Covid-19 (TPPC) Paroki Ciledug itu dipersembahkan oleh Romo Matius Pawai, CICM, dan diikuti oleh 80 partisipan dari berbagai wilayah.

Peserta misa (1).
Dalam homilinya Romo Matius mengupas bacaan Injil Matius 11: 25-30 tentang Ajakan Juruselamat.
Dikatakan, mereka yang terpapar, pernah atau masih diisolasi, maupun yang telah sembuh dari paparan Covid-19, tentu bisa bercerita banyak tentang beban yang mereka alami. Namun hendaknya mereka menjadikan Firman Tuhan sebagai peneguhan, sumber kekuatan dan rahmat.

Peserta misa (2).
Romo Matius mengajak belajar untuk mensyukuri pengalaman dari Yesus sendiri. “Aku bersyukur kepadaMu BapaKu, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan dari orang bijak dan pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang-orang kecil. (Mat 11:25)
“Mengeluh, ngomel-ngomel setiap hari tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, justru semakin menambah berat situasi yang kita alami. Bila setiap orang mengeluh, mengurangi suka cita yang sebentar lagi akan mereka nikmati,” katanya.

Peserta misa (3).
Sebaliknya ketika orang bersyukur, suka cita yang sedang mereka alami ditambah lebih besar lagi dengan ucapan syukur itu. Karena itu Tuhan mengatakan kepada setiap kita, “Marilah kepadaku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” (ay 28). “Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk datang kepada Tuhan,” imbuhnya.
“Dan malam hari ini kita yang berkumpul bersama, menyatakan diri sebagai orang beriman yang sungguh sadar bahwa satu-satunya tempat yang sempurna untuk pemulihan adalah di dalam Tuhan. Ketika Tuhan bersabda, ‘Marilah…’ kita semua yang berkumpul mengambil kesempatan yang istimewa ini untuk datang kepada-Nya,” katanya.

Peserta misa (4).
Romo Matius kemudian mengarahkan perhatian pada ayat 29: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
“Ada damai dan ketenangan saat ada bersama Yesus. Maka untuk kita semua, apapun keadaannya, betapapun sulitnya, tetaplah mengundang Tuhan, berada bersama dengan Tuhan, agar kuat menjalani kehidupan untuk kita nikmati,” kata Romo Matius.
Soal pembelajaran yang diberikan Yesus, Romo Matius menyampaikan renungan bernuansa prapaskah. Yesus yang tidak bersalah dan tidak berdosa oleh pengadilan Dia dinyatakan bersalah, meskipun banyak orang mengatakan Dia orang benar.

Peserta misa (5).
Dalam situasi demikian itu Yesus memikul salib sampai ke puncak Golgota. Selama perjalanan Yesus diejek, dihina, sampai jatuh berkali-kali tetapi tetap setia memikul salib. Ketika sampai di Golgota Yesus belum selesai tugasnya.
Dia ditinggikan di kayu salib kemudian datang seorang prajurit yang menusuk lambung-Nya dengan tombak sehingga keluar darah dan air yang oleh Gereja disebut sebagai lambang Sakramen-sakramen yang mengalir dari Hati Yesus yang terluka.

Peserta misa (6).
“Orang yang mampu belajar dari Yesus untuk tekun dan setia, menjadi pengikut Yesus meskipun mengalami situasi yang sulit, orang itu adalah pribadi beriman. Kata Yesus, Maka Aku akan memberikan kelegaan …” pungkas Romo Matius.
Teks: ps/ Foto-foto Screenshot: ps, Martin, Ruli