Romo Matius Pawai, CICM, memimpin Misa Imlek, 1 Februari 2022, di Balai Metro.
“Saya ada tiga angpao titipan dari panitia. Pesannya, silakan Romo bagikan kepada umat yang hadir misa hari ini. Karena ada 3 angpao, biar adil, saya akan bagi 3 kelompok. Kelompok 1 paduan suara, kelompok 2 petugas liturgi yang duduk di bariasan depan dan kelompok 3 untuk semua umat yang hadir misa,” demikian Romo Matius Pawai, CICM, mengawali homili pagi itu.

Misa Imlek di Balai Metro dihadiri umat dalam jumlah terbatas dan prokes ketat.
“Maka silakan siap-siap, nanti saya akan memberikan pertanyaan. Yang bisa menjawab silakan angkat tangan ya. Pak Bambang Hermanto tolong bantu saya melihat siapa yang paling cepat angkat tangan, pinta Romo Matius.
“Pertanyaan pertama untuk kelompok koor. Hari ini kita memasuki tahun baru Imlek tahun Macan Air. Tahun depan tahun apa?”
Ternyata ditunggu beberapa saat dari kelompok koor tak ada yang menjawab pertanyaan pertama itu dari Romo Matius itu.

Penerimaan komuni sesuai dengan aturan protokol kesehatan.
“Sekarang giliran ke kelompok liturgi. Kalau tahun besok pasti kamu sudah tahu. Saya itu selalu memandang ke depan. Pertanyaannya, dua tahun ke depan shio apa?” Terlihat petugas Lektor yang duduk paling ujung angkat tangan. Dijawabnya, “Shio Naga.” Jawaban itu betul dan ia berhak mendapatkan angpao
“Pertanyaan kedua. Tadi dalam Injil ada angka yang disebutkan sebanyak 2 kali. Angka berapa?” Kini giliran dari kelompok koor angkat tangan dan menjawab 12, dan jawaban itu betul, maka ia berhak atas 1 angpao.

Ibu Nanik yang bertugas sebagai Lektor mendapat angpau yang pertama.
Lalu Romo melanjutkan, “Pertanyaan ketiga untuk umat yang hadir ya. Saya lahir tahun 1978 shionya apa?” Tampak seorang ibu yang duduk di barisan tengah angkat tangan dan menjawab, “Shio Kuda”. Jawaban itu betul dan ia mendapatkan satu angpao.

Ibu Yuni dari kelompok koor mendapat angpau dari kuis kedua.
“Sepertinya sudah adil. Kelompok koor ada yang dapat angpao, petugas liturgi juga ada dan umat pun kebagian angpaonya. Sebetulnya masih ada satu angpao lagi, akan tetapi tadi pesannya panitia ini untuk Romo bawa pulang. Semoga tidak tertukar,” gurau Romo Matius mengakhiri permainan pagi itu.

Ibu Anastasia Lestari menerima angpao selaku pemenang kuis dari kelompok umat.
“Adalah hal yang baik ketika kita memulai sesuatu hal yang baru kita berdoa memohon pertolongan Tuhan. Seperti hari ini kita akan memasuki tahun yang baru menurut kalender Imlek. Kita berkumpul bersama untuk berdoa memohon rahmat Tuhan semoga di hari-hari mendatang kita dianugerahi kesehatan yang prima dan rezeki yang berlimpah,” demikian Pastor Matius melanjutkan homilinya.

Koor mini yang mengiringi misa.
“Tetapi jika nanti ke depan kita menjumpai hal-hal yang kurang menyenangkan atau peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan, Yesus dalam bacaan Injil hari ini telah mengajarkan kepada kita. ‘Jangan takut, percaya saja’,” (Mark 5:21-43).
“Dan jika Anda mengalami peristiwa jatuh atau terpuruk, datanglah kepada Yesus dan berserah kepadaNya. Kita belajar dari Injil hari ini dari seorang ibu yang sakit pendarahan 12 tahun. Karena percaya, ia berusaha bergerak mendekat pada Yesus. ‘Dengan memegang jubahnya saya pasti sembuh’,” lanjut Romo Matius.

Bp Johan Wijaya yang mengkoordinir Misa Imlek di Balai Metro, 1 Februari 2022.
“Kita juga belajar dari Yairus yang anaknya sudah meninggal dan datang kepada Yesus memohon pertolonganNya. Yesus datang dan berkata talitakum yang berarti bangunlah. Maka pesan bacaan misa hari ini jelas, percaya saja dan bangunlah,” kata Romo Matius menutup homilinya.

Dekorasi altar Misa Imlek di Balai Metro.
Penyelenggaraan misa tahun baru Imlek Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet tahun ini berlangsung di Balai Metro Permata. Misa diselengarakan 1 Februari 2022, jam 07.00 dengan kehadiran umat terbatas dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Pelaksanannya dikoordinir oleh panitia kecil dari Lingkungan Yoseph 3 yang dimotori oleh Bp Johan Wijaya.

Wawancara dengan Bp Selamat Sunarjo, salah satu tokoh di Metro Permata.
Ditemui seusai perayaan Ekaristi Bp Selamat Sunarjo, salah satu tokoh umat di Metro Permata menjelaskan, “Tradisi membagi angpao itu sebagai wujud ucapan terima kasih atas rezeki yang telah kita terima selama satu tahun kemarin dengan bentuk membagikan rezeki itu kepada orang lain. Harapannya, semoga tahun depan kita diberi lagi rezeki yang berlimpah.”

Bingkisan Imlek: cokelat, kue keranjang, dan jeruk.
“Nanti selesai misa umat akan diberi bingkisan yang berisi nian goa (kue keranjang). Ini ada maknanya, yaitu supaya dewa-dewa tidak bisa memberikan laporan yang jelek-jelek kepada Tuhan tentang manusia karena mulutnya lengket makan dodol/ kue keranjang. Kita percaya Tuhan sudah mengetahui apa saja yang kita lakukan dalam hidup ini,” jelasnya.

Cokelat khusus bergambar macan.
Sedangkan jeruk yang berwarna kuning itu, katanya, sebagai lambang emas yang dimaknai sebagai kemakmuran. Maka kita berharap semoga di tahun yang akan datang diberikan rezeki yang melimpah sehingga kita semua menjadi makmur.

Suasana dekoratif khas Imlek.
Lalu ada cokelat yang rasanya manis. Maknanya, jelas Pak Selamat lagi, semoga hidup kita ke depan terasa manis dan indah, dihindarkan dari segala marabahaya dan kesulitan. Itu semua adalah tradisi dengan berbagai simbol atau lambang. Harapannya, semoga tahun depan kita semua dianugerahi keberuntungan.

Pak Bambang Hermanto mengambil bingkisan yang disiapkan panitia.
Pak Johan, ketua panitia, menambahkan, “Cokelat yang kita berikan ini istimewa. Ada gambar macan sesuai tahun ini, tahun macan, dan ada tulisannya Fuk yang berarti keberuntungan.”
Pak Bambang Hermanto, seusai misa, mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini adalah sungguh baik, sebagai bentuk inkulturasi budaya. “Saya menyesal kenapa tadi tidak pakai baju merah seperti yang lain. Hiasan dan ornamen yang dipasang di Balai Metro suguh indah. Suasana Imlek sungguh nyata. Kalau tidak pandemi pasti lebih meriah lagi,” ujarnya.

Lingkungan Yoseph 3 selaku panitia kecil Misa Imlek 2022 foto bersama.
Mengakiri kegiatan pagi itu Panitia foto bersama Romo dengan memegang tulisan YOSEPH 3 dan 4 huruf mandarin. Menurut Pak Johan tulisan itu, Xin Nian Khuai Lek, berarti Selamat Tahun Baru, Semoga Bahagia.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Bambang Gunadi, Arum Pranastuti, Selamat Sunarjo, Maria