Sebagian peserta Go Kitab Suci Lingkingan Paroki Ciledug, 8 Januari 2022, dengan petugas Wilayah Yoseph.
Go Kitab Suci Lingkungan (Go-KiL) yang diselenggarakan oleh Seksi Kerasulan Kitab Suci (SKKS) Paroki Ciledug pada hari Sabtu, 8 Januari 2022, mulai pukul 17:00 melalui fasilitas zoom, dilaksanakan oleh Wilayah Yoseph sebagai petugas penyelenggara pertemuan.
Meskipun masih dalam suasana liburan tahun baru, namun para petugas ibadat yang terdiri dari BIA/BIR serta seluruh umat yang hadir tampak bersemangat mengikutinya. Materi dari Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Jakarta, dengan bacaan dari Injil Lukas 3:15-16, 21-22. Renungan atas bacaan disampaikan oleh Frater Christophorus Ivoni Navyanto, yang akrab dipanggil Frater Ivo.
Acara dibuka dengan doa, kemudian kata sambutan oleh Ketua SKKS yang baru (periode 2021-2024), Priscilla Lita Noviana. Go-KiL mengalir dengan lancar dipandu oleh pemimpin ibadat dari BIR, yaitu Renata Christie dan moderator Santoso Tedja. Hadir 50 akun (55 peserta) dari 14 wilayah.

Frater Christophorus Ivoni Navyanto, yang akrab dipanggil Frater Ivo, hadir sebagai pemberi renungan.
Fr. Ivo memulai permenungannya dengan menampilkan sebuah video kisah pembaptisan Tuhan oleh Yohanes Pembaptis. Dikatakan bahwa pada tahun ke-15 pemerintahan Raja Agung Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi Gubernur Yudea dan Herodes menjadi Raja Galilea, Hanas dan Kayafas menjadi Imam besar, Firman Tuhan datang kepada Yohanes di padang gurun. Kemudian ia menjelajah seluruh daerah Yordan untuk berkotbah tentang pertobatan dan pengampunan dosa.
“Yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis adalah rahmat baru,” kata Fr. Ivo. “Yohanes Pembaptis adalah tanda perbatasan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kisah Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, masa-masa pembuangan, lalu saat di Babel akhirnya bait Allah dibangun kembali, itu adalah 'pertanda'.
Namun Yohanes Pembaptis ingin mengungkapkan bahwa saat ini Allah benar-benar datang membebaskan manusia dari dosa. Satu-satunya jalan yang permanen menuju kepada Allah adalah pertobatan,” demikian Fr. Ivo menerangkan. Pertobatan atau metanoia adalah suatu perubahan sikap baik secara mental ataupun tindakan.

Yohanes membaptis Yesus di Sungai Yordan. (Ilustrasi: Istimewa).
Kerendahan Hati Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis tampil lebih dahulu dengan membaptis orang banyak, hingga membuat orang Yahudi menyangka Yohanes Pembabtislah yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya. Namun Yohanes Pembaptis dengan tegas dan tetap rendah hati mengakui bahwa ia bukanlah mesias yang dinantikan itu.
Pembaptisan Yohanes dan Pembaptisan Mesias. Baptisan Yohanes menggunakan air, melambangkan pembersihan sedangkan baptisan Yesus menggunakan api yang melambangkan pemurnian. Fr. Ivo juga menerangkan bahwa kisah pembaptisan Tuhan menunjukkan solidaritas, kesatuan Tuhan dan manusia.
Dalam kutipan Injil yang dibacakan, ada tiga tokoh yaitu Yesus, merpati yang melambangkan Roh Kudus, dan suara (Firman), dimana Firman itu adalah Allah. “Di situlah titik tolak Yesus Kristus adalah penyelamat,” ungkap Fr. Ivo. Ia juga menerangkan tentang bagaimana agar kita mampu memiliki kesadaran akan suara Tuhan yang hadir dalam hati kita, yaitu dengan membaca firman Tuhan, berdoa dan ekaristi. Melalui pembaptisan Yesus menawarkan awal yang baru bagi mereka yang mau bertobat (Kisah Para Rasul 22:1-16).

Sebagian dari peserta Go-Kil Januari 2022 yang dihadiri oleh 55 peserta dari 14 Wilayah.
Dalam sesi tanya-jawab, banyak pertanyaan yang diajukan dan dijawab oleh Fr. Ivo dengan sabar dan ramah.
− Yesus memulai pelayanan dengan memberikan diri untuk dibaptis. Mengapa demikian?
+ Ini menunjukan solidaritas-Nya sebagai manusia. Yesus juga merasakan perasaan-perasaan manusia. Contoh: ketika berada di taman Getsemani, Yesus menangis dan berdoa. Allah pencipta yang tidak terjangkau mau menjadi manusia untuk menyelamatkan, membantu, mendampingi, hadir di tengah-tengah kita.
− Bagaimana bisa mengetahui suara hati yang benar atau sebetulnya hanya mencari pembenaran diri sendiri?
+ Suara hati muncul biasanya ketika ada suatu masalah. Sebetulnya dalam tiap masalah selalu ada jalan keluar; kita sebetulnya punya jawaban atas masalah itu. Persoalannya adalah masalah yang dihadapi sering memunculkan jawaban yang sulit untuk dilakukan. Contoh: ketika kita disakiti, kita tahu bahwa kita harus mengampuni, tetapi itu tidak mudah dilakukan. Suara hati juga sebagai alarm di hati kita.
Sebagai ilustrasi Fr. Ivo menceritakan seseorang yang mengemudikan mobil dengan kencang di sebuah jalan tol, lalu ada orang yang melemparkan batu ke mobilnya. Pengemudi langsung menghentikan mobilnya dan marah. Orang yang melemparkan batu itu mengatakan bahwa di depan jalan ada jembatan yang roboh, sehingga kalau mobil itu tetap melaju kencang akan terjatuh ke jurang. Dari cerita tersebut Fr. Ivo menyarankan bahwa ketika ada koreksi untuk kita, meskipun mungkin membuat sakit hati, tanggapi dengan rasa damai untuk kemudian dapat melakukan yang disarankan.

Moderator Susanto Tedja (pojok kiri atas) dan para petugas dari BIR/BIA.
− Mengapa banyak orang taat dan mendengarkan perintah Yohanes?
+ Yohanes orangnya unik, sejak kelahirannya pun sudah spesial. Cara hidupnya yang unik, makanan dan minumannya adalah belalang dan madu hutan, mengingatkan orang-orang akan Nabi Elia. Dan Yohanes mewartakan apa yang benar dari Allah.
− Yohanes, makanan dan minumannya adalah belalang dan madu hutan; apakah itu umum pada zamannya? Apakah belalangnya seperti yang di Indonesia?
+ Makanan dan minuman Yohanes tidak umum, sebab pada masa itu sudah ada roti dan ikan. Namun makanan/minuman Yohanes memiliki asupan protein yang baik, sehingga mau menyatakan bahwa hidupnya stabil. Jenis belalang tidak tahu pasti seperti apa.
− Mengapa gambaran Roh Kudus ada yang berupa burung merpati dan ada yang berupa api (sesudah kebangkitan Yesus)?
+ Roh Kudus seperti burung merpati adalah gambaran tentang ketulusan dan kesetiaan. Yesus setia, tulus menyelamatkan manusia sampai Ia wafat di salib. Kita pun harus setia pada panggilan kita masing-masing. Roh Kudus seperti api, menggambarkan pemurnian (untuk bersatu dengan Allah, seperti dalam purgatori: kita dimurnikan seperti emas), juga melambangkan semangat.

Nyanyian pujian yang dibawakan oleh remaja-remaja BIR.
− Tentang baptisan air dengan cara selam, apakah lebih afdol daripada baptisan percik, seperti yang dilakukan di Gereja Katolik? Dan tema: Baptis Jalanku Terbuka, apakah juga maksudnya suara hati yang terbuka? Mau rendah hati?
+ Tentang cara baptis selam atau percik, yang terpenting adalah makna dan simbolnya. Yaitu metanoia/pertobatan dan simbolnya adalah air. Air melambangkan kehidupan (dibersihkan, disucikan dari dosa-dosa lampau), membuka rahmat Tuhan ke dalam hati kita.
+ Rendah hati dan ketaatan membuka rahmat dan karya Allah. Apabila tidak ada kerendahan hati dan ketaatan dapat menimbulkan gesekan. Contoh: Rasul Paulus pun pernah bertikai dengan rasul lainnya tetapi karena kerendahan hati maka akhirnya masing-masing bisa saling memahami. Dalam hal ini kita harus meneladani Yesus, yang mau direndahkan, mati buat manusia.

Sebagian peserta lain Go-Kil Paroki Ciledug, 8 Januari 2022.
Ibadat Go-KiL ditutup dengan lagu pujian oleh BIA/BIR dan OMK dengan penuh sukacita dan semangat. Masih terngiang liriknya, ”Ku 'kan terbang tinggi di awan, bersama-Mu dalam kemuliaan, S’bab firman-Mu teguh menopang, Ku 'kan aman dalam-Mu Tuhan.”
Teks & Foto-foto screenshot: Tim Go-KiL Wil.Yoseph