Menjadi Berkat bagi Bangsa Indonesia dengan Inspirasi Pengalaman Umat Gereja Perdana

29 Agustus 2021
  • Bagikan ke:
Menjadi Berkat bagi Bangsa Indonesia dengan Inspirasi Pengalaman Umat Gereja Perdana

Live Talkshow Kebangsaan Gereja Bernadet, Minggu (15/8).

Gereja mesti memberi kesaksian, baik ke dalam sebagai umat beriman, maupun ke luar sebagai warga masyarakat yang beragam. Keberagaman merupakan keniscayaan yang mesti dikelola dan disikapi dengan komunikasi yang jujur dan terbuka. Demikianlah, antara lain, pokok-pokok pikiran yang muncul dalam Live Talkshow Kebangsaan bertema “Menjadi Berkat dalam Keberagaman” untuk menyambut HUT RI Ke-76, Minggu (15/8).

Talkshow virtual terbatas yang diselenggarakan Gereja St Bernadet tersebut menghadirkan dua narasumber, Romo Franz Magnis-Suseno, Guru Besar Emeritus STF Driyarkara, dan Ignatius Haryanto, dosen Universitas Media Nusantara (UMN), moderator Wisnu Nugroho dari Kompas, dan MC dari Gereja Bernadet, Ibu Sakura.

5 Magnis-Suseno---

Romo Franz Magnis-Suseno, narasumber.

Mensyukuri keberagaman

Romo Magnis mengajak untuk mensyukuri sebagai anugerah bahwa penjajahan bisa dikalahkan;  juga bersyukur sebagai bangsa beragam karena—tidak seperti negara-negara lain  semisal Myanmar dan Polandia—Indonesia terbentuk dari beragam suku yang oleh para Founding Fathers berhasil disatukan menjadi sebuah bangsa tanpa masing-masing kehilangan identitasnya. “Orang Jawa tetap Jawa, orang Batak tetap Batak, orang Islam 100 persen Islam, orang Katolik 100 persen Katolik 100 persen Indonesia. Karena itu Indonesia begitu bersatu. Macam-macam yang kita alami tidak mengancam Indonesia. Kita orang Katolik, meski hanya 3 persen, tetap sama saja bangsa Indonesia,” katanya.

Ia mengingatkan fakta sejarah perjalanan awal bangsa Indonesia bahwa Bung Karno menghargai Mgr Soegijapranata; Amir Sjarifudin sebagai orang Batak Kristen bisa diterima sebagai Perdana Menteri II Indonesia (1947-1948). “Itu menunjukkan luar biasa keberhasilan Pancasila,” tegasnya.

4 Ign Haryanto---

Ignatius Haryanto, narasumber.

Pancasila sebagai panggilan

Kita mensyukuri Pancasila yang diterima sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945 sebagai sebuah tanggung jawab, sebagai panggilan. “Menurut saya, umat Katolik Indonesia harus menjadi berkat, berkat bagi bangsa Indonesia. Dan kita menjadi berkat dengan menjadi saksi Kristus,” kata imam dari Serikat Yesus yang menjadi warga negara Indonesia sejak 1977 itu.

Untuk itulah, Romo Magnis mengajak untuk menimba inspirasi dari pengalaman umat kristiani purba (Gereja Perdana). Umat kristiani pertama lebih dari dari 2.000 tahun lalu diikuti oleh ribuan orang, 3.000 - 5.000 orang di Yerusalem, kemudian meluas, mengelilingi 12 Rasul, dan mereka disukai.  Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis 2:47).

Umat Gereja Perdana dialami sebagai berkat. Bagaimana mereka melakukan itu? “Dengan memancarkan apa yang menjadi hakikat Yesus, hakikat Tuhan menurut Yesus: kasih, cinta. Mereka membawa penebusan karena kasih Yesus sendiri, penebus kita, karena Ia mau menjadi salah satu manusia, mau solidaris dengan kita, merasakan sampai pengalaman kematian yang amat sangat mengerikan dengan tetap mencintai, taat, dan harapan pada Bapa dan, dengan demikian kita tahu, mengikuti Yesus kita ini slamet,” kata Romo Magnis.

8 Wisnu Nugroho---

Wisnu Nugroho, moderator.

Umat Gereja Perdana menjadi saksi. Mereka berkumpul di Bait Allah di Yerusalem, berdoa bersama, memancarkan kasih, membantu orang miskin, yatim piatu, dan semua yang perlu bantuan. “Mereka tidak mengancam. Begitu menarik kesaksian mereka sehingga banyak orang, ribuan joined Umat Purba itu. Padahal umat itu, seperti Yesus, sudah diancam. Dalam waktu relatif singkat sudah ada satu Rasul, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya atas perintah Raja Herodes (Herodes Agripa I, Kis 12:2—Red),” lanjut Romo Magnis.

Mengapa umat Gereja Perdana bisa melakukan semua itu? “Karena Roh Kudus ada di dalam mereka. Itulah pengalaman terkuat Umat Purba: menerima Roh Kudus, merasakan Roh Kudus. Nah, karena itu, ini penting bagi kita juga, mereka menjadi saksi Kristus, pertama terhadap mereka sendiri untuk saling memperkuat dalam iman, kedua saksi Kristus di luar umat,” jelasnya.

Romo Magnis lalu mengajak agar kita juga bersatu untuk saling mendukung, karena orang tidak mungkin beragama sendirian. “Maka umat paroki, kelompok-kelompok di dalam umat paroki, harus saling mendukung. Kita bersama-sama mengikuti Yesus, dan sekaligus kita memberikan kesaksian ke luar,” katanya.

6 Rm Lamma---

Romo Lamma memberikan sambutan pembukaan.

Gereja Orang Miskin

Untuk mengerti apa arti memberi kesaksian, orang bisa membaca Surat Rasul Paulus, Surat Petrus, Surat Yakobus, dll, dalam Perjanjian Baru yang intinya kita saling mendukung dalam iman. Namun Romo Magnis memusatkan perhatian pada Galatia 5:22: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan. “Inilah,” tegasnya, “yang harus menjadi kesaksian kita, baik terhadap diri kita sebagai umat beriman, maupun terhadap orang luar.”

Digarisbawahi dua hal penting yang dikatakan sampai sekarang masih sangat aktual: pertama, tak boleh ada perpecahan, iri hati, kekerasan hati, kebencian di antara kita. Kalau ada perbedaan pendapat atau konflik bisa diselesaikan dalam kasih sejati dengan rendah hati. Hal-hal ini bisa ditimba dari pengalaman St Paulus ketika mengatasi perpecahan di Korintus: dalam semangat Kristus, dalam Roh Kristus, bukan dengan rasa benci dan emosional. Bahwa dalam politik, misalnya, ada perbedaan pendapat, tidak masalah. “Tetapi kita menunjukkan kasih, sukacita, lemah lembut, dan seterusnya,” kata Romo Magnis.

3 Rm Matius

Romo Matius (pojok kanan bawah), doa dan berkat penutup.

Kedua, kita ini Gereja bagi orang miskin. “Ini penting sekali,” katanya lalu menyebut Sabda Bahagia (Mat 5). “Paus Fransiskus begitu menegaskan, kita harusnya bukan hanya Gereja bagi orang miskin, melainkan Gereja Orang Miskin![1] Jadi kita tidak mengizinkan orang miskin dan lemah menjadi terlantar. Dalam orang miskin kita ketemu Yesus,” kata Romo Magnis. Lalu dia kutip Mat 25 tentang Penghakiman terakhir, khususnya ayat 35-40: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40). “Orang miskin punya tempat,” tegasnya.

Romo Magnis memberikan ilustrasi dengan menceritakan peristiwa ketika ia bertemu salah seorang umat Katolik yang merasa malu dan tidak mau lagi pergi ke gereja parokinya karena sudah dibangun terlalu mewah. “Saya merasa malu, terpukul,” kata Romo Magnis mengingat peristiwa itu. Kalau Gereja membuat orang kecil, miskin, tidak merasa krasan, ia mengingatkan, harus ada perubahan! Itulah contoh kesaksian ke dalam.

Bagaimana dengan kesaksian ke luar, menjadi saksi Kristus dalam masyarakat? Kita hidup bersama dengan mereka yang kebanyakan bukan orang Katolik. Orang Katolik itu minoritas, kecil. Tetapi di antara warga masyarakat juga ada orang miskin, orang berkebutuhan, lemah, tertindas. Menjadi saksi Kristus di dalam masyarakat tak lain berarti Roh Allah dalam diri kita sendiri dapat memancarkan keselamatan, kebaikan, penyembuhan, kesetiaan untuk memaafkan, menolak ketidakadilan, rasa benci dan iri. “Mereka harus bisa merasakan kerahiman ilahi,” tegasnya.

2 Peserta OK

Sejumlah anggota DPH menjadi peserta Talkshow Kebangsaan.

Sebagai rahmat bagi semua

Mengaku suka meminjam salah satu ayat dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam raya), Romo Magnis mengajak kita agar juga bisa dirasakan sebagai rahmat, sebagai anugerah Tuhan bagi semua. “Jadi itu berarti keadaan kita di masyarakat harus dirasakan sebagai sesuatu yang positif oleh yang lain-lain. Bahwa orang bisa berprasangka, bisa apriori, sudah harus kita terima. Ada yang apriori tapi juga banyak yang tidak,” katanya.

Romo Magnis memberi contoh konkret, misalnya menjadi tetangga yang baik dan tidak menakutkan. Juga jangan jor-joran, megah-megahan. “Tidak baik kalau kita dianggap bisa menang karena duitnya lebih banyak. Jadi kita harus dirasakan sebagai sesuatu yang positif. Di situ perlu kita tahu diri, tidak sombong, rendah hati,” ujar dosen yang antara lain mengajar mata kuliah Etika (filsafat moral) itu.

9 peserta 1---

Pak Sandy K tengah berbagi pengalaman dalam keberagaman.

Romo Magnis meringkas paparannya dalam dua poin. Pertama, kita mesti memberikan kesaksian, terhadap kita sendiri dan terhadap masyarakat. Sebagai Gereja bagi orang miskin, umat kita yang masih miskin harus merasa krasan, merasa dipersatukan, diterima, merasa didukung; kedua, Gereja kita harus bisa dialami masyarakat sebagai Gereja Kasih yang rendah hati, yang damai, yang positif. “Saya kira dengan dua kesaksian itu, kita juga mengisi ruang yang disediakan oleh Pancasila, sehingga tidak juga terlalu khawatir tentang masa depan,” pungkasnya.

Keberagaman harus dikelola

Uraian Romo Magnis menjadi lebih lengkap dengan paparan pengalaman konkret di lapangan oleh Ignatius Haryanto yang sudah lama malang-melintang melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan bersama kelompok-kelompok majemuk di hampir semua provinsi di Indonesia.  

Keberagaman adalah keniscayaan yang ada di mana-mana, baik dari sisi suku, agama, usia, latar belakang pendidikan, gender, dll. Sebagai seorang awam Katolik Haryanto merefleksikan bahwa keberagaman itu harus dikelola; dan menerima keberagaman merupakan proses belajar lewat komunikasi yang terbuka dan jujur karena banyak hal yang belum saling diketahui.

10 ts 2----

Sejumlah peserta dalam talkshow virtual terbatas.

“Ada masa saya belajar untuk menerima perbedaan dengan cara yang unik,” ujar Haryanto. Pernah, misalnya, ketika menjadi penceramah di  Unisba Bandung yang semua pesertanya muslim, ia diminta berhenti bicara dulu ketika terdengar suara azan. Waktu mengikuti suatu kegiatan di Aceh di bulan puasa, ia pun menghormati kebiasaan masyarakat setempat dengan menyesuaikan jadwal makan, sahur dan buka puasa.      

Pada suatu kegiatan di Sulawesi Barat yang juga berlangsung di bulan puasa, karena ketika tiba di sana bertepatan dengan waktu makan siang, Haryanto terkejut karena baru tahu bahwa panitia ternyata sudah memikirkan dan mempersiapkannya dengan mengajak orang-orang yang tidak berpuasa ke suatu rumah makan untuk makan siang. “Ternyata mereka memperhatikan,” katanya.

Juga karena belum tahu, Romo Magnis pun menceritakan pengalamannya naik pesawat Jakarta-Medan.  Karena duduk bersebelahan dengan seseorang berpenampilan muslim yang belakangan diketahuinya sebagai tokoh MUI di Medan, Romo Magnis memberi tahu dia, “Pak, saya nanti ditawari makan akan menerima.” Apa reaksi orang itu?  “Dia malah memberi ‘semacam kuliah’ tentang 8 macam orang yang menurut Islam tidak perlu puasa. Saya diberi tahu supaya merasa enak, tidak perlu malu dengan makan saya,” kenangnya. “Jadi,” sambung Romo Magnis, “perlihatkan saja kita sebagai orang Katolik, tidak menyembunyikan, tunjukkan saja kita orang baik.” Komunikasi yang jujur dan terbuka itu perlu. “Saya ini, Katolik, londo (orang kulit putih), tidak pernah diperlakukan tidak baik oleh mereka,” katanya memancing senyum peserta.

11 ts3---ok

Pak Benyamin (baris 1, kolom 4) mengajukaan pertanyaan.

Sebaliknya, ketika pada suatu hari Minggu Haryanto dan keluarganya berjalan kaki hendak ke gereja untuk ikut misa, seorang tetangga yang beragama Islam bertanya, “Mau ke mana, Pak?” Ketika dijawabnya, “Mau  ke gereja,” reaksi orang itu seolah-olah baru ngeh. “Sampai dimensi-dimensi paling kecil kita sering tidak saling tahu. Mungkin saudara-saudara kita yang beragama Islam belum tahu bahwa untuk pergi ke gereja kita harus menempuh sekian kilo meter, ganti angkutan umum beberapa kali, persiapan satu jam sebelumnya, dan seterusnya.”

Bagi Haryanto, contoh-contoh pengalaman dalam pluralitas itu tidak dilihatnya dalam tensi atau konflik, tetapi lebih anekdotal, lucu-lucuan.

Berkarya dalam masyarakat plural

Haryanto merasa mendapat anugerah Tuhan dengan kemampuannya menulis dan memberikan pelatihan menulis, sehingga ia bisa berselancar ke berbagai komunitas yang beragam untuk berbagi pengetahuan tanpa harus menunjukkan identitasnya, meski orang tahu dia Katolik. Ia mengaku lebih senang memilih untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok yang plural. “Karena di situ saya belajar banyak untuk memahami orang yang berbeda, budaya yang berbeda, dan kepercayaan yang berbeda,” katanya.

12 ts4-A---

Mendengarkan jawaban narasumber.

“Saya sering lupa unsur ‘Katolik’ dalam diri saya, namun yang selalu saya akan ingat adalah harus memberikan yang terbaik, melayani sepenuhnya, profesional, dan juga sukarela membantu,” ujar Haryanto. Ia pun merasa mendapat kemewahan dengan kesempatan itu karena bisa mengetahui berbagai permasalahan yang dialami saudara-saudara kita, khususnya di luar Jakarta atau luar Jawa, misalnya dalam hal akses informasi.

“Dalam masyarakat plural ini kita tidak boleh segan, sungkan, untuk bekerja sama dengan kelompok lain yang punya tujuan kepentingan/kesejahteraan bersama atau bonum commune,” ujar mantan anggota Komisi Kerawam KWI dua periode ini. Kecuali itu, berdasarkan pengalamannya sebagai jurnalis, ia menekankan pentingnya memiliki network (jaringan) sebagai modal sukses.

Bangkit dari inferioritas

Meski sudah sejak mahasiswa aktif di berbagai kegiatan, Haryanto mengaku bahwa menyandang predikat minoritas, sebagai orang Katolik, warga keturunan Tionghoa dari keluarga biasa-biasa saja, dan hidup di kampung tidaklah mudah. Ia pun mengaku pernah merasa inferior.

13 ts5---

Romo Magnis memaparkan materi.

Ia bangkit dari perasaan inferioritas itu setelah merasa tertampar oleh teguran seorang pastor, pembimbing rohaninya, yang sambil menunjuk salib mengatakan: “Kamu lihat siapa yang tergantung di kayu salib itu? Apa yang orang katakan padaNya? Penipu, penghujat Allah, pembohong! Lalu apa yang dilakukan orang itu? Dia terus berjalan dengan yang Dia percayai, Dia terus maju…” Peristiwa itu menjadi turning point (titik balik), sehingga ia katakan, “Saya tidak lagi memusuhi identitas saya tetapi berdamai dengannya.”

“Saya orang Indonesia yang kebetulan berdarah Tionghoa. Sering saya katakan ini tinggal casing-nya doang,” katanya bernada canda. “Tidak bisa Bahasa Mandarin, tak punya nama tiga suku kata, keluarga sudah beberapa generasi tinggal di Indonesia. Saya lebih merasa sebagai orang Indonesia,” ujarnya.

ts7---

Ibu Sakura Pringgohardjoso, MC (pojok kiri atas).

Haryanto mencoba menuangkan kecintaannya pada Indonesia dengan apa yang bisa dia lakukan: menulis, melatih orang menulis, mendidik, dan lain-lain. Sebagai seorang Katolik, ia merasa harus bertanggung jawab, mencoba rajin ke gereja misa tiap Minggu, mendalami pengetahuan tentang kekatolikan, memahami pesan-pesan Paus, terutama pidato komunikasi setiap bulan Mei. “Karena saya merasa komunikasi adalah bidang saya dan pesan Paus selalu menjadi pengingat saya akan bidang ini, apa esensi komunikasi ,” kata peserta Program Doktoral Jurusan Komunikasi UI ini.

Obor, Lilin, atau Garam?

Dalam masyarakat majemuk, untuk bisa membawa pengaruh baik ke orang lain, Haryanto mengajukan tiga terminologi dalam KS sebagai pilihan strategis, yaitu Obor, Lilin, dan Garam. “Menjadi obor berarti tampil di depan dengan identitas jelas bersama-sama teman seiman; menjadi lilin berarti tampil sendiri di antara keramaian yang mungkin akan bisa menghantarkan terang ketika bertemu lilin-lilin lain; menjadi garam berarti tampil tak kelihatan namun mewarnai atau memberi rasa. Ketiganya tidak perlu dipertentangkan tetapi menjadi pilihan strategis. Tidak selalu harus menjadi obor, lilin, atau garam.

Usai kedua narasumber berbicara, acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dan sharing yang dipandu moderator sebelum ditutup dengan doa dan berkat.

Teks & Foto-foto Screenshot: Paulus Sulasdi


[1] Lihat Seruan Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) 24 November 2013 yang sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2014. Seruan menyangkut orang miskin, kecil, tertindas, terdapat dalam Artikel 53.

Tags
talkshow

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna