Ibadat bagi mereka yang terpapar Covid-19, Rabu (30/6).
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang,” demikian Ibu Clara Gia Shinta mengawali pemaparannya mengutip Kitab Amsal 17:22. “Di masa pandemi Covid-19 ayat ini begitu populer dan sering kita dengar. Dan itu betul adanya,” jelas Ketua Seksi Kerasulan Keluarga Paroki Ciledug itu.

Amsal 17:22 yang di masa pandemi ini begitu populer.
Malam hari itu, Rabu, 30 Juni 2021, Ibu Gia Shinta, sapaannya, didaulat untuk memberikan pencerahan di hadapan peserta Ibadat untuk saudara-saudari yang terpapar Covid-19. Tema yang diangkat adalah “Mengasihi Diri dalam Tuhan”.

Alasan-alasan mengapa kita harus gembira.
“Mengapa kita harus gembira? Karena emosi itu bisa menyakiti organ tubuh. Ketika kita khawatir yang berlebihan dan terus-menerus, itu akan melemahkan lambung. Kalau kita terlalu sering sedih akan melemahkan otak dan jantung. Kalau kita selalu merasa ketakutan, itu akan melemahkan ginjal. Sedangkan kalau kita sering marah-marah, itu akan melemahkan liver,” lanjut Ibu Gia Shinta.

Senyawa kegembiraan dan cara mendapatkannya.
“Nah seperti dalam Amsal tadi kita diajak untuk selalu gembira. Nah bagaimana senyawa kebahagiaan itu dan bagaimana mendapatkannya? Ada senyawa dopamine yakni kebahagiaan yang ditimbulkan dari makan enak, tidur yang cukup dan mandi air hangat,” jelasnya.
“Makan enak,” kata Ibu Gia Shinta, “tidak harus yang mahal dan di tempat yang mewah. Senyawa endorphin didapatkan dari kegiatan berolahraga, tertawa dan mendengarkan musik. Senyawa oxytocin kebahagiaan yang didapat dari berbagi cerita, sentuhan fisik, dan melakukan kebaikan. Sedangkan senyawa serotonin didapat dari berdoa/beribadah, terpapar sinar matahari, dan menikmati keindahan alam. Tidak susah kan untuk menjadi bahagia.”

Seni merawat diri dalam Tuhan: kegiatan spiritual dan physical.
Disimpulkan bahwa ada dua kegiatan yang bisa kita lakukan di masa pandemi Covid-19 ini. Yang pertama kegiatan spiritual, yakni meluangkan waktu untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Kegiatan seperti ini setiap hari akan membantu kesehatan fisik.
Yang kedua physical, yakni tidur yang cukup (7-8 jam setiap malam) dan nyenyak. Serta dibarengi dengan olahraga teratur dan makan makanan bergizi. Bisa ditambahkan dengan kegiatan relaksasi mengisi kembali ketahanan mental, memulihkan tubuh dan otot. “Semoga kita tetap sehat dan terhindar dari virus Corona,” harapnya.

Romo Lammarudut Sihombing, CICM, mempimpin ibadat.
Ibadat malam hari itu dipimpin oleh Romo Lammarudut Sihombing, CICM. Dalam homilinya Romo mengajak kita semua untuk belajar dari Bartimeus memohon kesembuhan dari Yesus (Markus 10:46-53).
Sebagai manusia kita boleh memohon apa pun kepada Tuhan. Ketika kita memohon pertolongan Tuhan paling tidak ada dua hal yang bisa kita simpulkan. Pertama kita menyadari akan kelemahan dan keterbatasan kita. Yang kedua kita mengakui kemahakuasaan Tuhan.

Sebagian umat dari 143 peserta ibadat.
Bartimeus datang memohon kepada Yesus agar dapat melihat, karena itu yang sangat dibutuhkan, atau yang menjadi kelemahannya. Dari sini kita dapat belajar bahwa iman menjadi pintu masuk atau jalan kerahiman Tuhan. Termasuk di dalamnya rahmat kesembuhan.
Tidaklah mustahil Tuhan memberikan mukjizat penyembuhan melalui manusia. Misalnya melalui paramedis, dokter, perawat yang saat ini berjibaku di garda terdepan. Sebagai orang beriman, mari kita berserah kepada Tuhan dan terus berusaha. Maka yang perlu kita jaga adalah keseimbangan akan dua hal ini atau ada istilah ora et labora (berdoalah dan bekerjalah/berusahalah).

Hati yang gembira adalah obat yang manjur.
Teks: Bambang Gunadi: Foto-foto: Screenshot (Maria)