Kesan-kesan Warga Senior tentang Misa “Offline” Perdana Warga Senior

14 Juni 2021
  • Bagikan ke:
Kesan-kesan Warga Senior tentang Misa “Offline” Perdana Warga Senior

Misa perdana offline lansia di Gereja Bernadet, Sabtu (12/6).

Ada beragam kesan dari warga lansia sesudah mereka mengikuti misa offline perdana di masa pandemi untuk warga lansia di Gereja Santa Bernadet, Sabtu, 12 Juni 2021.

Bp Edison Sitorus sambil mencuci tangan ketika diwawancara mengatakan, “Senang sekali akhirnya kami para orangtua boleh mengikuti misa di Gereja. Setahun lebih kami tidak ikut misa di gereja. Ada rasa rindu. Ini saya ke gereja  bersama istri dan satu tetangga di lingkungan.” 

Sitorus-

Pak Edison Sitorus menuju tempat cuci tangan.

Pendaftaran dirasa cukup mudah. “Kami hanya mendaftar melalui Ketua Lingkungan, lalu kami dapat tiketnya,” imbuh warga Wilayah Theresia itu. Kemudahan itu sesuai dengan informasi dari Tim Belarasa dimana pendaftaran misa untuk lansia menggunakan pola pendaftaran ketat. Umat tidak dapat mendaftar langsung lewat web Belarasa tetapi melalui Ketua Lingkungan. Selanjutnya Ketua Lingkungan yang mendaftarkan ke Tim Admin Belarasa.

Ibu Dewi menceritakan, ketika dihubungi Koordinator Pasdior, Pak Edi Sarwono, cukup kaget. “Kok saya disuruh tugas, mbok yang lain saja,” katanya. Tetapi setelah mendengar penjelasan bahwa untuk misa minggu ini sebisa mungkin organisnya diusahakan dari lansia, Bu Dewi langsung menerimanya.

“Dan meskipun saya sudah masuk golongan lansia ternyata masih berguna untuk ikut melayani misa,” ungkap Bu Dewi dengan mata berkaca-kaca.

bu Dewi-b Endang- bu rosa--pakai

Bu Dewi, Bu Endang, dan Bu Rosa.

Bu Endang dari Wilayah Thomas yang sore bertugas sebagai pemandu lagu mengatakan, “Ternyata misa di gereja dengan jumlah umat yang sedikit itu terasa suasana lebih tenang, jadi maknyes, apalagi saat umat pulang satu per satu tidak uyuk-uyukan (ramai berbondong-bondong). Itu terasa khusuk. Ini pertama misa di gereja dan dapat tugas pemandu lagu, merinding selama misa."

Ibu Rosa dari Wilayah Petrus yang sore itu bertugas sebagai dirigen mengamini kedua rekannya sesama warga senior itu.

Pak Andreas Edi Sarwono, Koordinator Pasdior, menyampaikan kesan pribadinya. “Saya merasa trenyuh (terharu), sempat mrebes mili (berlinang air mata), mensyukuri karena bisa ikut Ekaristi Kudus. Enggak tahu kenapa hati jadi merasa bahagia, seakan segala masalah lepas, pasrah,” ungkapnya.

_DSC9054 (2)

Pak Edi Sarwono, Koordinator Pasdior St Bernadet.

Menurut Pak Edi petugas pasdior sudah bagus. “Cuma saya tidak ingat untuk membawa buku Puji Syukur. Saya tengok kiri-kanan banyak juga yang tidak bawa. Saya tidak tahu apakah pada tidak tahu atau diberi tahu tapi lupa. Kalau saya memang lupa membawa,” katanya.

Untuk sarana dan prasarana prokes baginya juga sudah sangat bagus. “Begitu yang bisa saya rasakan. Matur nuwun bisa ikut Ekaristi,” ucap Pak Edi.

Pak Suprihardjo (biasa bertugas di sound system): “Setahun lebih saya tidak ke gereja. Enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagaimana seneng-nya boleh ke gereja lagi,” katanya.

Komuni2--pak suprihardjo_1

Pak Suprihardjo menerima komuni.

“Di awal pandemi kita hanya bisa mengikuti misa live streaming. Lalu ada perubahan setelah mengikuti live streaming diantar SMK. Nah pas pertama diantar SMK itu saya terharu sekali sampai meneteskan air mata… Nah hari ini lebih dari itu,” ungkap warga Fabiola 1 itu sambil buru-buru menuju ruang sound system untuk bertugas.

“Merasa seneng banget akhirnya bisa mengikuti perayaan ekaristi di gereja,” kata Pak Yono dari Fabiola 1. “Jadi lebih mantep, rasanya plong rasa rindu terobati,” timpal Bu Yono.

Pak Yono--

Pak Yono.

Dengan terbata-bata Pak Edward Joedho mengungkapkan rasa terharunya. “Sungguh rahmat Tuhan telah mengantar saya untuk dapat menerima Tubuh Kristus secara nyata dengan mengikuti liturgi yang lengkap di gereja. Apalagi kami kami ini tinggal tidak jauh dari gereja, hanya beberapa langkah. Jadi kalau denger suara misa dari greja itu timbul rasa rindu yang sangat dalam. Maka sore hari ini rasanya luar biasa.”Kerinduan yang sudah lama terpendam akhirnya terobati, berkat kesabaran dan perhatian Gereja yang sangat luar biasa,” ungkap warga Fabiola 1 itu.

Pak Joedho

Pak Edward Joedho.

Pak Imam dari Wilayah Isidorus ketika dicegat usai misa hanya berkata singkat sambil memberi jempol, “Lumayan. Kesannya bagus.”

Imam Isidorus

Pak Imam.

Sementara Pak Karyono dari Wilayah Agustinus mengaku merasa biasa-biasa saja. “Ya tentu lebih senang karena bisa menerima komuni secara langsung,” kata Prodiakon yang “dibebastugaskan” selama masa pandemi ini.

Karyono Prodiakon-

Pak Karyono.

Ibu Maria Istinah dari Lingkungan Maria 4 dalam Bahasa Jawa halus menyatakan bersyukur dan berterima kasih bisa mengikuti misa di gereja setelah setahun lebih tidak bisa mengikutinya.

Maria Istinah Maria 4

Ibu Maria Istinah.

Teks: Bambang Gunadi, ps/ Foto-foto: Hari Kristanto, Walter Arya, ps

 

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna