Retret Umat Santa Bernadet Paroki Ciledug, Sabtu (22/5).
Salah satu program KAJ, “Retret Umat”, yang dikelola oleh Tim Panitia Penggerak Tahuh Refleksi (PPTR) Gereja Santa Bernadet, dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 Mei 2021, pukul 17.00-18.30, secara daring. Penyelenggara ibadat adalah Tim SKKS. Retret mengambil tema dari KAJ, Bergerak dan Digerakkan karena Kasih kepada Kristus, dihadiri 71 akun dengan sekitar 82 peserta.

Pak Margot mendaraskan Mazmur.
Ibadat ini mengambil dua bacaan, 1 Kor 12:12-31 tentang “Banyak anggota tetapi satu tubuh”; dan Mark 6:30-44 tentang “Yesus memberi makan lima ribu orang”. Diakon Stefanus Ramli, CICM—yang akrab disapa Diakon Steve—memberikan renungan sekitar 20 menit.
Diakon Steve menggarisbawahi dua hal. Pertama, bagaimana Yesus dan para murid mengorbankan waktu istirahat untuk menunjukkan belas kasihan, melayani, dan membuat mukjizat bagi banyak orang yang tidak punya gembala seperti dikisahkan Injil Markus; dan, kedua, ketidakharmonisan jemaat Korintus karena saling mementingkan diri sehingga terpecah-belah seperti tersirat dalam 1 Korintus.
Banyaknya pertanyaan dan sharing yang diajukan dan tidak semuanya bisa dijawab karena keterbatasan waktu menunjukkan tingginya antusiasme peserta.

Pak Kuswantoro mengajukan pertanyaan pertama.
Pak Kuswantoro, dengan mencermati bacaan 1 Kor, mengawali pertanyaan, bagaimana dalam satu tubuh komunitas harus mempertahankan belas kasih?
Diakon Steve menjawab dengan ilustrasi komunitas yang dialaminya. Di dalamnya ia bertemu orang-orang berbeda latar belakang dan karakter yang membuat dia canggung.

Mendengarkan pengalaman Diakon Steve di Filipina.
Dengan berusaha mengenal lebih jauh orang-orang yang ditemuinya itu, Diakon Steve ingat pesan Paus dalam Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-58, “Datang dan Lihatlah” untuk tahu cara memahami orang lain, dan belas kasih pun akan mengalahkan egoisme seperti dikisahkan Mark 6:30-44.
Dalam Injil tersebut Yesus memberi contoh bagaimana sikap yang tidak egois, dengan mengorbankan waktu untuk beristirahat dan memilih mengajak para murid-Nya agar bergerak untuk tetap melayani dan memberi makan sejumlah besar orang yang datang.

Diakon Steve bercerita tentang film Oscar Romero.
Pertanyaan Bp Totot (Wilayah Yohanes): bagaimana kita menyikapinya jika ada yang membelot dari tujuan komunitas karena kepentingan dirinya, apakah tetap berpegang pada prinsip kebenaran atau mengalah demi suasana damai yang harmonis?
Jika berpegang pada prinsip kebenaran, jawab Diakon Steve, maka kebenaran itu akan membawa kita pada apa yang akan kita capai. Ia mengilustrasikan tokoh dalam film yang ditontonnya, Oscar Romero1), sebagai seorang pribadi yang berjuang demi kebenaran karena didorong belas kasihannya, sehingga bisa kokoh setia dan teguh memperjuangkan kebenaran. “Harus ada yang dikorbankan, mungkin perasaan, bahkan nyawa sekali pun,” ujarnya.

Peserta dari berbagai Wilayah.
Kalau dengan belas kasih diharapkan kita dapat lakukan banyak hal untuk orang lain, pertanyaan Bu Fany Natalia, bagaimana umat tetap bisa bergerak di masa ekonomi sulit sekarang ini?
Diakon Steve mengenang pesan mamanya dalam menjawab pertanyaan itu. Mamanya selalu percaya bahwa banyak cara Tuhan bekerja untuk memberikan jawaban dari setiap “persoalan memberi”.

Ibu Etty Iswanti, Ketua SKKS (kolom 1, baris 2 dari atas).
Ilustrasi lain diberikan ketika Diakon Steve berada di Manila dengan uang transpor PP pas-pasan. Di tengah jalan ada ibu yang minta pertolongan dengan ringan. Diakon Steve memberikan uang ke ibu itu tanpa berpikir ongkos untuk pulang. Sesampai di Pastoran pamannya, ada tamu yang tiba-tiba memberinya uang transpor yang cukup untuk kembali ke kotanya. “Cara Tuhan selalu tak terduga bagi kita semua,” katanya.
Jika merasa tidak punya kemampuan apa-apa, apalagi berbagi, apakah kuncinya tetap bersandar pada Tuhan? Ini pertanyaan Bu Naniek.

Pemimpin Ibadat, Ibu Melati (kolom 2, baris 5).
Diakon Steve menjawabnya dengan menceritakan, dulu dia merasa tidak pantas masuk seminari tetapi kemudian dikuatkan oleh pernyataan seorang Pastor di Makassar saat baru 1 tahun masuk masa pendidikan itu.
Merasa tidak punya apa-apa bagi Diakon Steve ditanggapi sebagai tantangan untuk bisa menggali apa yang bisa dia berikan, seperti Santo Paulus katakan, “Dalam kelemahanku Tuhan bekerja,” karena semua yang terpanggil biasanya merasa tidak pantas. Tapi justru semua dilakukan karena mengasihi Tuhan yang memilih kita menjadi pelayan-Nya dengan cara-cara sederhana. Kelemahan menjadi kekuatan untuk terus maju. Harus ada kerendahan hati dan terus bergerak mengandalkan Tuhan.
Bu Wati (Wilayah Thomas) bertanya, bagaimana pelayanan bisa on terus? Menjawab ini, Diakon Steve menceritakan pengalamannya ketika bekerja di pegunungan, berjalan 2-3 jam tetapi ternyata umat kosong. Apa gunanya melayani hanya 1-2 orang? Tetapi ketika merenung sejenak di depan Salib Misi yang dia miliki, ia kembali bangkit karena malu memandang korban Kristus jauh lebih pahit dan sakit. Ini yang memotivasinya, bahwa pelayanannya belum seberapa dibanding Tuhan Yesus.

Siap-siap untuk menyanyikan lagu penutup.
Pak Thomas Suraya, selaku moderator bersama Pak Margot, mencatat beberapa kesimpulan berikut ini.

Lita & Family melayani lagu pembuka dan penutup.
Di bagian akhir Diakon Steve masih memberikan peneguhan agar kita tidak ragu untuk bergerak karena ada Yesus yang memberi mukjizat. Bukan dengan 5 roti dan 2 ikan, tetapi ketika kita ikhlaskan apa yang kita miliki untuk berbagi, di situlah mukjizat Tuhan terjadi. “Tuhan tidak pernah menutup mata. Jangan pernah berhenti melakukan kebaikan dengan belas kasih,” katanya.
Syukur kepada Allah Ibadat Retret Umat tahun refleksi 2021 berjalan lancar, meski panitia sempat sedikit panik karena mepetnya kedatangan Diakon Steve.
Para petugas: Penyapa awal: Bu Wati; Sambutan pembuka: Bu Etty Iswanti (Ketua SKKS); Lagu pembuka Semuanya hanya Anugerahnya dan lagu penutup Ave Maria: Bu Lita & Family; Pembaca Kitab Suci (Tim SKKS): Bu Evie, Bu Ermina, Pak Kuswantoro, Pak Tulus, Bu Maya, Pak Sarno, Bu Nawang; Pemazmur: Pak Margot; Doa Umat: Bu Anna, Bu Ida Legowo, Bu F. Ida; Pemimpin ibadat dan Doa Penutup: Bu Melati.
Teks: LN70 & team SKKS/ Foto-foto: Screenshot
Untuk link ibadat, klik di sini.
1) Catatan editor: Oscar Romero adalah Uskup Agung San Salvador, El Salvador, Amerika Selatan, 1977-1980. Dikenal sebagai Martir Pembela Kaum Tertindas, ia ditembak mati saat memimpin misa karena perlawanannya terhadap ketidakadilan dan penindasan penguasa. Ia dikanonisasasi oleh Paus Fransiskus pada 14 Oktober 2018 di Basilika Santo Petrus, Roma (dari berbagai sumber).