Pembinaan Tim ASAK tentang Psikologi, dari Soal Remaja Bandel sampai “Bullying”

18 Mei 2021
  • Bagikan ke:
Pembinaan Tim ASAK tentang Psikologi, dari Soal Remaja Bandel sampai “Bullying”

Semua peserta memberi jempol terbaik untuk difoto.

Minggu (9/5) Tim ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) St Bernadet mengadakan pembinaan secara virtual via zoom. Pembinaan kali ini melibatkan anak-anak, mulai dari SD sampai yang kuliah, dan juga orangtua.

Laras7--doa

Berdoa bersama.

Pembinaan kali ini berbeda karena pembawa materi adalah kakak-kakak dari Universitas Indonesia (UI) dengan materi psikologi, dari pengertian sampai masalah-masalahnya. Acara yang dimulai pada jam 13.00 ini mewajibkan seluruh peserta dan panitia untuk menyalakan kamera agar bisa saling mengenal meskipun dari rumah masing-masing.

Laras1--

Lagu Pembukaan, Hari Ini Kurasa Bahagia.

Pembinaan Asak ini dihadiri oleh 102 anak-anak dan orangtua, serta  6 orang dari UI. Acara dimulai dengan doa pembuka, lagu pembuka dan juga tentunya ice breaking, disambung cerita, dengan pemandu Kak Aristo Pratama dari tim ASAK St Bernadet.

Laras4--

Kuesioner lewat web Slido.com.

Setelah ice breaking  selesai, kakak-kakak pembawa materi memulainya dengan perkenalan yang dibawakan oleh kak Gita dan kak Clara dari UI, dilanjutkan dengan mengisi kuesioner dari web Sli.do mengenai  “Apa yang diketahui tentang psikologi?” dan “Apa sih yang mau kamu curhatin kalau ketemu psikolog?”

Kuesioner tersebut mendapat respons cukup menyenangkan dengan berbagai jawaban.

Laras5--

Perbedaan psikolog dan psikiater.

Sesi materi dimulai dengan mengenal perbedaan antara psikolog dan psikiater. Dan sementara pemberian materi berlangsung, kepada anak-anak dan orangtua diberikan kesempatan untuk bertanya melalui room chat yang akan dijawab oleh kakak-kakak pembawa materi.

Kak Gita kak clara kak--

Kak Gita (kiri), Kak Clara (kanan), Kak Dian (bawah).

Remaja bandel

Berikut ini salah satu pertanyaan orangtua: “Bagaimana caranya mengetahui anak remaja yang agak keras kepala?“

Laras3--

Psikologi pelajari perilaku manusia, mental, dan prosesnya.

Kak Gita menjelaskan perlunya memahami bahwa setiap tahap usia ada karakteristiknya. Dan yang paling penting, dalam menghadapi remaja keras kepala atau bandel, orangtua dapat mengkomunikasikan apa yang menjadi harapannya dengan cara yang tepat, seperti mencari waktu yang cocok atau mencari kondisi atau tempat yang nyaman, dalam mood yang baik.

Laras2--

Kak Aristo Pratama (kolom 1, baris ke-3 dari atas).

Sebelum memberikan nasihat dan solusi, tambah Kak Clara, lebih baik mendengarkan pandangan anak. Biasanya orangtua akan mengarahkan mereka karena sudah pernah mengalami, tanpa melihat bahwa—siapa tahu—yang dihadapi oleh si anak ini berbeda dengan yang dialami orangtua dulu.

“Bullying” dan belajar “online”

Namanya anak-anak, respons mereka seru ketika ada jawaban pertanyaan berikut ini: “Bagaimana cara menghilangkan trauma akibat bullying dan apakah harus ke psikolog?”

Laras6--

Gerakan hujan agar bisa fokus belajar online.

Kak Gita menjawab, akan lebih baik untuk datang ke psikolog, karena kita tidak tahu seperti apakah kadar bullying yang diterima, dan efeknya pasti berbeda-beda.

Gita--

Bu Clara Shinta memimpin doa penutup.

“Bagaimana supaya fokus belajar online?” Ini pertanyaan berikutnya. Yang menjawab pertanyaan ini Kak Dian dari Tim ASAK. Katanya, mungkin bisa dengan melakukan gerakan yang disebut hujan, yaitu mengetuk kepala dengan menggunakan jari secara perlahan.

Laras8--

Lagu penutup.

Pembinaan berlangsung hingga jam 15.00. Setelah sesi tanya-jawab selesai, maka selesai pula pembinaan ASAK kali ini. Dan acara ditutup dengan lagu penutup, doa penutup, dan juga foto bersama paling meriah dengan memberikan jempol terbaik masing-masing.

Teks & Foto-foto Screenshot: Gabriela Laraswati

Tags
ASAK

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna