Bersyukur, Tuhan Masih Mengirim Panggilan untuk Kongregasi Sang Timur

30 April 2021
  • Bagikan ke:
Bersyukur, Tuhan Masih Mengirim Panggilan untuk Kongregasi Sang Timur

Tiga Suster Sang Timur dalam Misa Minggu Panggilan. 

Tiga biarawati dari Kongregasi Sang Timur bertugas dalam Misa Minggu Panggilan Sedunia ke-58 di Gereja St Bernadet, Minggu (25/4). Mereka adalah Sr Mariska Maria, PIJ (organis), Sr Agusta, PIJ (dirigen), dan Sr Andreana, PIJ (pemandu lagu).

Usai misa, masih di panti koor, Sr Agusta dan Sr Mariska asyik membahas pilihan lagu Persembahan, “PadaMu, Tuhan Allahku” (Kidung Jemaat, 367), ditingkahi saling lempar tawa, seakan belum menyadari kehadiran awak Komsos di situ yang akan melakukan wawancara.

Sr Mariska Sr Agusta-B--

Sr Mariska, PIJ (kiri) dan Sr Agusta, PIJ.

“Mengapa tadi lagu Persembahan diganti? Saya sudah persiapkan Puji Syukur 683 (“Panggilan Tuhan”—Red), ndak cocok,” kata Sr Agusta. “Ndak apa-apa,” sahut Sr Mariska. “Ya, tapi kasih kabar, kan di sana (menunjuk lampu display nomor lagu) nomornya itu,” sergah Sr Agusta pula. Kedua suster itu pun lalu tertawa bersama meski pendapat berbeda.

Ketika ditanya bagaimana rasanya bertugas di Misa Minggu Panggilan, yang menjawab pertama Sr Mariska. “Ndredheg (gemetar)… Soalnya ini untuk saya pertama kali tugas di Pinang; kedua, ini disiarkan live. Aduh malu sama anak-anak saya, maaf ya, anak-anak,” katanya.

Sr Andreana Pij-B--

Sr Andreana, PIJ, menjawab pertanyaan Komsos.

Suster Agusta menyambung, “Saya bersyukur karena boleh ambil bagian dalam tugas Gereja ini.” Sr Mariska menimpali, “Tapi kadang-kadang merasa kurang persiapan juga.” Sr Agusta melanjutkan, “Saya tetap bersyukur karena boleh ambil bagian dalam mewartakan kasih Tuhan, terutama di Misa Minggu Panggilan ini.”

Mengenai kurang persiapan itu, Sr Agusta menjelaskan, “Ceritanya begini. Awalnya diinfo di jadwalnya hanya lagu Pembukaan dan Penutup. Tiba-tiba minta lagu Persembahan. Ya lalu cari-cari, berimprovisasi…”

sr agusta--

Sr Agusta, PIJ, dirigen.

“Mungkin kita memang harus belajar Liturgi juga ya, karena kadang-kadang kita memilih lagu nggak sesuai,” imbuh Sr Mariska, si organis otodidak itu.

Sementara itu Sr Andreana, pemandu lagu, merasa sangat bersyukur, meskipun mengaku grogi ketika pegang mik karena tidak ada pengontrol keras-lemahnya suara. “Akhirnya saya mengalir saja, sesuai hati nurani. Pokoknya saya ingin memuji, memuliakan Tuhan dan, puji Tuhan, hari ini kan (Injilnya) Yesus Gembala yang baik dan kita domba-domba-Nya,” katanya.

Sr Mariska--_1

Sr Mariska Maria, PIJ, organis otodidak.

“Romo sebagai gembala yang mempersembahkan misa dan kita domba-domba disatukan dalam Perjamuan Kudus ini untuk meneguhkan panggilan, baik secara pribadi maupun bersama umat yang mendukung,” imbuh  Sr Andreana.

Jangan takut

Ketika ditanya bagaimana minat untuk menjadi biarawati lewat Kongregasi Sang Timur, Sr Andreana mengungkapkan rasa syukurnya. “Puji Tuhan, masih Tuhan kirim, sekitar 10 atau 12, baik di luar Jawa, Flores,  maupun di Jawa,” katanya.

Sr Andreana--

Sr Andreana, PIJ, memandu lagu.

Ia kemudian menjelaskan, dalam proses pendidikan tarekat religius (formatio) ada dua tempat persemaian untuk persiapan aspiran, yaitu mereka yang melakukan pengenalan awal hidup membiara, dan postulan atau tahapan sebelum novisiat. “Nanti novis digabung di Malang,” jelas Sr Andreana.

Sr Andreana mengatakan, bahkan ada satu orang calon dari Paroki Ciledug, lulusan SMA Sang Timur Tomang. ”Namanya Fauza kalau nggak salah,” katanya.

umat atas--

Bersama umat mengikuti misa Minggu Panggilan.

Ia berharap, remaja putri tidak usah takut mendengarkan panggilan Tuhan. “Biara itu, bagi saya, bukan tempat menakutkan, tapi mengasyikkan,” kata Sr Andreana penuh semangat.

Dengan penjelasan yang memancing senyum, Sr Andreana melanjutkan, “Ah aku nggak boleh pacaran, ya sekarang pacaran dulu kalau takut nanti di biara nggak boleh pacaran… Ada konsekuensi-konsekuensi tertentu, tapi menjadi suster itu sesuatu yang menyenangkan.”

dengan panitia--

Foto bareng Rm Lamma, Frater, dan Tim Sie Panggilan.

“Ada korban tetapi juga ada berkat di situ. Berkorbannya karena kita tidak menikah, tidak punya anak; berkatnya kita punya banyak anak, punya banyak rumah, punya banyak saudara. Kalau kita punya hobi, kesenangan, kita punya bakat, kita pun bisa berkembang,” ujarnya penuh semangat.

“Jangan takut juga kalau jadi biarawati nggak bisa berkarier. Bisa!” sahut Sr Mariska tak kalah semangatnya. “Banyak sekarang biarawati punya karier. Banyak biarawati yang sekarang jadi dokter…”

Peliput: Rafaela Chandra/ Foto-foto: Juliana Manurung, Rafaela Chandra

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna