Memetik Pesan Paskah di Era Digital—Sebuah Catatan

19 April 2021
  • Bagikan ke:
Memetik Pesan Paskah di Era Digital—Sebuah Catatan

Misa Paskah II, Minggu (4/4), dipersembahkan Romo Lamma. 

Marilah kita lagukan pujian kejayaan/ Kristus sudah berjuang melawan kematian/ Meskipun ditelan namun menang/ Dosa kita dilebur, kuasa maut gugur/ Didamaikan kita dengan Bapa... (dikutip dari Buku Mazmur Tanggapan & Aleluya, Edisi Th 2020)

Itulah penggalan sekuensia yang dinyanyikan, menandai Misa Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan, Minggu (4/4). Lagu ini dinyanyikan sebelum bacaan Injil yang menjadi ciri khas Liturgi Hari Raya Gereja Katolik dan wajib dinyanyikan. Sekuensia juga dinyanyikan pada Hari Raya Pentakosta dan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

MISA PERTAMA ONLINE DAN OFF LINE--

Romo Matius Pawai, CICM, mempersembahkan Misa Paskah I.

Misa Hari Raya Paskah di Gereja Santa Bernadet tahun 2021 ini diselenggarakan dua kali. Misa I pukul 08.30 offline dan online dan Misa II pukul 17.00 offline saja tanpa live streaming.

Misa I dipersembahkan oleh Romo Matius Pawai, CICM, dengan petugas Sekuensia Maria Octaviany dari Komunitas Pemazmur. Sedangkan Misa II dipersembahkan oleh Romo Lammarudut Sihombing, CICM, dengan petugas Sekuensia Theresia Merry, juga dari Komunitas Pemazmur.

fia--

Sekuensia Misa Paskah I oleh Maria Octaviany. 

Informasi di Era Digital

Dalam homilinya Romo Lamma mengajak umat mencermati Injil hari itu, Yoh 20:1-9, bagaimana pengalaman Maria Magdalena dan para murid mendapati makam yang kosong.

Yang pertama Maria Magdalena berangkat paling awal. Disebutkan pagi-pagi benar ketika hari masih gelap. Sampai di depan makam didapati pintu penutup makam sudah bergeser. Makam terbuka.

mERY--

Sekuensia Misa Paskah II oleh Theresia Merry.

Tanpa melihat ke dalam Maria Magdalena langsung berlari pulang, mengabarkan kepada Simon Petrus dan murid yang lain bahwa jenazah Yesus hilang dicuri orang. “Yang menjadi pertanyaan, apakah kabar yang disampaikan Maria Magdalena itu benar atau hanya kesimpulan pribadi tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya?” kata Romo Lamma.

Yang kedua, murid yang dikasihi Yesus. Murid itu berlari mendahului Simon Petrus. Artinya Simon Petrus setelah mendapat kabar dari Maria Magdalena juga bergegas ke makam tetapi kalah cepat. Murid yang dikasihi itu berlari mendahului Simon Petrus.

via medy adi--

Organis, Dirigen, dan Pemandu Lagu.

Sesampai di makam, murid itu melihat ke dalam dan melihat kain kafan tergeletak di tanah tetapi tidak segera masuk ke dalam makam. “Dalam hal ini ada kehati-hatian mengamati dulu dari luar sebelum memutuskan masuk ke dalam,” jelas Romo Lamma.

Yang ketiga Simon Petrus. Ia sampai di makam Yesus paling akhir tapi langsung masuk ke dalam makam dan melihat kain kafan tergeletak di tanah, dalam hal ini sama dengan murid yang dikasihi.

ORGANIS DIRIGEN PEMANDU LAGU--

Organis, Dirigen, dan Pemandu Lagu.

Bedanya, ada tambahan, “sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu tetapi agak ke samping dan sudah tergulung. Di sini bisa dilihat informasinya lebih jelas dengan fakta pendukung yang lebih detail karena Simon Petrus sudah masuk ke dalam, tetapi dia tidak dapat menyimpulkan apa-apa.

“Kesimpulan justru didapat setelah murid yang sampai lebih dahulu itu ikut masuk ke dalam makam tadi. Dalam Injil disebutkan, “Ia melihat dan percaya.”

eco enxyme metro--

Pembagian eco enzyme di Balai Metro.

Romo Lamma kemudian mengajak untuk memetik pelajaran dari ketiga tokoh Injil itu. Dalam era digital saat ini, ketika arus informasi dan komunikasi begitu cepat, kita diajak untuk melihat ke dalam dan mencerna terlebih dahulu ketika mendapatkan informasi sebelum menyebarkan kepada yang lain.

“Dicek terlebih dahulu, dan apakah ada data-data pendukung lainnya, sehingga kita bisa mengatakan bahwa informasi ini benar,” ajaknya.

Bingkisan eco enzyme

eco enxyme pinang1--

Siap dibagikan eco enzyme di Pinang.

Seusai misa, baik Misa I maupun II, umat mendapatkan bingkisan Paskah berupa satu botol cairan eco enzyme, yakni cairan serbaguna untuk keperluan rumah tangga hasil olahan atau fermentasi dari sampah segar organik dari sisa sayuran dan kulit buah.

Selain kepada umat yang hadir di gereja, bingkisan itu juga dibagikan kepada umat yang mengikuti Misa Online, yang mengambil SMK lewat PPK, baik di Balai Metro maupun Gereja Pinang.

eco enxyme pinang--

Seorang bapak tengah mengamati eco enzyme di Pinang.

Menurut Ibu Tri Cory Anggraeni, salah satu penggiat eco enzyme, kegiatan ini sebagai bentuk Aksi Nyata Prapaskah 2021 dimana tema ketiganya adalah “Persaudaraan dengan alam ciptaan” yang mengajak kita untuk melihat kembali peziarahan hidup beriman kita dalam relasinya dengan alam ciptaan.

Dalam hal itu, kita diajak untuk ikut menjaga dan memelihara serta merawat alam, salah satunya dengan mengolah sampah untuk dijadikan sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi kehidupan kita.

“Kami adalah kawanan kecil pegiat eco enzyme umat Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet yang ingin berbagi kebaikan dan mengajak mengubah pola hidup dengan memanfaatkan eco enxyme,” kata Ibu Cory, sapaan akrabnya.

pemerhati Eco Enzyme yang membagi di metro minggu paskah--

Ibu Cory, salah satu pegiat eco enzyme dan hasil panen.

“Saat ini kami baru bisa membagi 500 botol eco enzyme yang merupakan hasil panen dari teman-teman pegiat yang dikumpulkan,” imbuhnya. Melestarikan lingkungan dapat ditempuh dengan mengolah sampah segar organik, baik dari dapur sendiri atau dari lingkungan sekitar. “Misalnya sisa tukang sayur, tukang rujak atau penjual buah,” katanya lagi.

Selamat Paskah. Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin menjadi berkat. Semoga pandemi Corona tidak membuat kita kehilangan harapan.

Video Paskah: Totok-Jassen.


Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Walter Arya, Rafaela Chandra, Bambang Gunadi, Cory Anggraeni/ Video: Hari Kristanto-Jassen Novaris

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna