Dalam Misa Imlek 2021 Kita Diajak Bersyukur, Membuka Hati dan Telinga

16 Februari 2021
  • Bagikan ke:
Dalam Misa Imlek 2021 Kita Diajak Bersyukur, Membuka Hati dan Telinga

Romo Matius Pawai, CICM, dalam misa Imlek 2021.

Tahun 2021 ini misa Tahun Baru Imlek di Gereja Santa Bernadet 12 Februasi 2021 yang dipersembahkan oleh Romo Matius Pawai, CICM, dirayakan secara offline dan  online, mulai pukul 08.30. Kuota umat dalam misa offline dibatasi 30 orang.

Suasana Imlek segera terasa dengan lagu pembukaan Berserah yang bernuansa khas Tionghoa serta aksen-aksen warna merah pada dekorasi altar. Lampion-lampion merah penghias di gerbang dan dalam gereja, serta busana mayoritas umat bernuansa merah juga memperkuat suasana itu.

cek suhu-1--_1

Pemeriksaan suhu sebelum misa Imlek offline.

Menurut Mbak Maria, seorang bapak, muslim, yang tinggal tak jauh dari gereja membantu pemasangan semua lampion di depan pintu masuk dan di dalam gereja karena tak ada laki-laki di antara tim dekorasi altar waktu itu.

Dalam pembukaan, Romo Matius mengatakan, Imlek merupakan kesempatan bagi kita untuk datang kepada Tuhan, bersyukur dan berterima kasih bahwa tahun baru ini Tuhan masih melimpahkan rezeki, rahmat, dan berkat-Nya bagi hidup kita.

cek qrcode2-2--

Cek BarQode.

“Hari ini kita boleh datang kepada Tuhan lagi untuk memohon rahmat dan berkat bagi perjalanan hidup selanjutnya. Semoga segala suka cita, kebahagiaan, dan damai sejahtera di sepanjang tahun baru dikaruniakan kepada kita semua,” kata Romo Matius.

thlalu1-

Cuplikan foto Misa Imlek tahun 2020. 

Berbeda dari tahun sebelumnya, sebelum misa Imlek tahun ini ditayangkan cuplikan-cuplikan gambar kilas balik misa Imlek tahun sebelumnya yang dipimpin Romo Lammarudut Sihombing, CICM.

thlalu2-

Romo Lamma membagi jeruk dan angpao (Misa imlek 2020).

Buka telinga dan hati

Bacaan hari itu diambil dari Kitab Kejadian 1:3-8 tentang ular yang menggoda manusia untuk berbuat dosa dan Injil Markus 7:31-37 tentang kisah Yesus di kampung Tirus menyembuhkan orang gagap dan tuli.

beby8--

Lektor membacakan Kitab Kejadian 1:3-8.

Dalam homilinya Romo Matius menggarisbawahi pentingnya membuka hati dan telinga untuk mendengarkan. Jika “mendengar” kita hanya mendengar suara tanpa memahami yang didengar, sementara “mendengarkan” berarti memahami betul apa yang diutarakan kepada kita.

beby10-5--

Dirigen dan solis.

“Maka ketika telinga dipakai untuk mendengarkan kabar suka cita Tuhan, ketika mulut dipakai untuk mewartakan cerita baik dan indah tentang Tuhan, tentang kebaikan sesama, sesudah itu mari juga membuka hati kita untuk menerima kritikan, saran, dan mampu mendengarkan ajaran-ajaran yang baik,” kata Romo Matius.

beby1--

Kuota umat dibatasi 30 orang.

Dengan cara itu, katanya, di sepanjang tahun yang baru hidup kita akan dapat menjadi rahmat dan berkat bagi semakin banyak orang, bukannya menjadi seperti si ular dalam Bacaan I yang menjerumuskan manusia dengan membujuk agar berbuat dosa.

beby7Yus-3--

Umat berbusana dengan nuansa warna merah.

Romo Matius mengajak umat untuk berdoa dan mensyukuri rezeki dan berkat berlimpah yang Tuhan telah berikan selama setahun ke belakang serta memohon rahmat dan berkat untuk tahun yang baru.

Bagian dari tradisi

Ditemui seusai misa, Ibu Fenny Komarudin dari Wilayah Fabiola mengatakan, merayakan Imlek adalah bagian dari tradisi atau budaya yang diwariskan oleh orangtua dan bukan hari raya agama tertentu.

beby9-4--

Prodiakon membagikan komuni.

Sementara itu Mbak Arum Pranastuti menceritakan, panitia kecil berkonsultasi dengan Romo dan tim TGKP untuk merayakan misa Imlek pada jadwal misa hari Jumat dengan tetap menaati protokol kesehatan yang waktunya diubah pagi hari, bekerjasama dengan Sie Komsos untuk live streaming.

Hal itu juga dikatakan Pak Arief Suparyono, Korwil Fabiola yang ikut misa secara online karena tidak mendapat kuota offline. “Iya ada kerja sama dengan Komsos, tetapi khusus untuk misa Imlek penanggung jawabnya Pak Teddy (Teddy Varino Ngandiri, Red),” katanya lewat telepon, Senin (15/1).

beby11-6--

Bingkisan khas Imlek dari panitia untuk Romo Matius.

Ditanya mengapa misa Imlek pelaksanaannya oleh Wilayah Fabiola, Pak Arief menjelaskan, “O itu masalah kebiasaan saja karena sudah bertahun-tahun begitu. Semacam tradisi. Wilayah Fabiola dibantu oleh wilayah-wilayah lain juga.”

Makna simbol

Secara terpisah, saat ditanya mengapa Imlek identik dengan warna merah, Pak Teddy menjelaskan bahwa merah adalah simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan kesuksesan. “Maka harapannya semoga tahun yang akan kita lewati ini menjadi lebih baik dari tahun lalu,” katanya.

Sementara itu Ibu Fenny menjelaskan makna buah jeruk mandarin dan kue keranjang yang selalu ada dalam perayaan Imlek.

beby12-7--

Peserta misa Imlek mendapat jeruk mandarin.

“Jeruk yang berwarna kuning seperti emas melambangkan rezeki atau keberuntungan. Kue keranjang yang terbuat dari beras ketan yang lengket sebagai simbol persaudaraan yang lengket atau erat. Sedangkan rasa manis melambangkan rezeki atau keberuntungan. Semoga tahun depan rezekinya nempel terus,” ujar Bu Fenny.

“Kalau angpao itu sebetulnya sebutan untuk amplop merah. Tapi kalau kita ngomong angpao, itu indentik dengan membagi uang. Karena memang dalam amplop merah itu ada uangnya. Sama dengan ajaran iman kita toh, kita selalu diingatkan untuk mau berbagi?” imbuhnya.

bapak----

Bapak ini, seorang muslim, membantu pasang semua lampion.

Hal lain yang menurut Ibu Fenny bagus dalam perayaan Imlek adalah kebiasaan sebelum hari raya untuk bersih-bersih rumah. “Bahkan sampai di atas lemari yang tidak pernah kita sentuh harus kita bersihkan. Ini kan bagus, rumah jadi terlihat bersih dan nyaman,” katanya lagi.

“Tahun ini, karena pandemi Corona, kebiasaan kumpul-kumpul keluarga dan makan bersama tidak bisa kita lakukan. Tapi tidak apa, semoga tahun ini Corona segera pergi, sehingga kita semua bisa kembali hidup normal,” pungkas Bu Fenny berharap.

Teks: Livita, Rosy, Bambang Gunadi, ps/ Foto-foto: Rafaela Chandra, Bambang Gunadi, Maria, Screenshot

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna