Pemanasan Perlu untuk Mencapai Kualitas Paduan Suara yang Prima

16 September 2019
  • Bagikan ke:
Pemanasan Perlu untuk Mencapai Kualitas Paduan Suara yang Prima
Pak Nayoko melatih vokal anak-anak untuk Pesparani, Minggu (15/9). 

Tujuan pemanasan adalah menghasilkan suara koor yang berkualitas yang mencakup tiga hal:

Energi. Suara yang berenergi, yang “mengangkat”, bukan suara yang datar, lelah bahkan cenderung turun.

Indah natural. Suara yang indah yang enak didengar, fleksibel, empuk meskipun forte atau bernada tinggi.

Resonansi. Suara seakan-akan berasal dari kepala, bukan dada atau tenggorokan.

Apabila ini terwujud, maka suara penyanyi akan kurang lebih sama karena dihasilkan dengan cara yang sama. Inilah yang menjadi tujuan suatu paduan suara, yaitu memadukan suara manusia yang bermacam-macam. Mekanisme produksi suara yang dipakai untuk berbicara harus diubah untuk bernyanyi. Pemanasan sebaiknya dilakukan dalam waktu yang cukup pendek (5 -10 menit) namun dengan keseriusan yang tinggi.

 

nayoko1-ok

Suasana koor anak harus menyenangkan tapi serius.

Penyanyi diharapkan mengetahui tujuan dari masing-masing langkahnya.

  1. Relaksasi. Untuk mengendorkan otot-otot bernyanyi yang tegang. Putar kepala beberapa kali (kedua arah), putar kedua bahu, mengangkat tangan ke atas, latihan nafas dengan diafragma.
  2. Resonansi. Untuk menghasilkan suara yang bulat dan empuk. Menguap. Hmmmm (dari nada C turun satu oktaf ke bawah), bersenandung dengan lembut 5-4-3-2-1 (lalu “mi-me-ma-mo-mu”), lalu naik setengah nada. Gunakan huruf “m” untuk membangkitkan rongga resonansi di kepala.
  3. Energi. Nyanyikan 1-2-3-4-5-4-3-2-1 dengan (do,ma,mo atau ha), terus naik setengah nada. Juga 5555-5555-54321 dengan “ha”’ 5 nada terakhir legato.
  4. Indah. Bernyanyi dengan legato. 1 – 54321 dengan vocal : ni – ah, ni – eh , di – o. 

nayoko3-ok

Anak tidak langsung nyanyi tapi diolah vokalnya lebih dulu.

Bila keempat hal ini sudah diberikan, bila perlu dirigen dapat juga menambah latihan lain untuk meningkatkan paduan suaranya:

  1. sensitivitas antar penyanyi dengan dirigen : latihan dinamika dari p – f – p
  2. menyeragamkan huruf hidup: a – e – i – o – u dan variasinya : ni – e – a – e – i, u – wi – yu – wi – yu, i – yo – i – yo – i. Gunakan nada yang sama dilanjutkan setengah nada di atasnya.
  3. Ketepatan nada : mainkan nada secara acak pada organ, mintalah pada koor untuk mengikutinya.
  4. Fleksibilitas : 11234234534564567567i, dengan “ya” dan tempo yang cepat atau dengan 1231354321 (fanalafanalafanalafa).

 

A Nayoko. Tulisan di atas pertama diunggah di WAG Pasdior St Bernadet. Foto-fofo ilustrasi: ps

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna