Keluarga Berperan Besar dalam Menumbuhkan Benih-benih Panggilan

13 Mei 2019
  • Bagikan ke:
Keluarga Berperan Besar dalam Menumbuhkan Benih-benih Panggilan
Romo Sylvester Asa, CICM, pembicara utama talkshow.

Acara talkshow minggu panggilan hari Minggu (12/5) di tenda bawah Pinang dipadati peserta yang sebagian besar anak-anak sekolah, dari SD dan SMP Sang Timur Ciledug, Sekolah St Angelina Pondok Lestari, Sekolah Amore Metro Permata, dan Sekolah Abdi Siswa Bintaro.

kevin3-ok_1

Dihadiri Romo Noel, Anggota DPH Ibu Wati, suster, dan para frater.

Hadir juga dalam acara tersebut Pastor Rekan Paroki Ciledug, Romo Manuel V Valencia, CICM, anggota Dewan Pengurus Harian, ketua-ketua seksi, suster, frater, dan umat lainnya.

Arya3-ok_3

Pak Supri Jawir yang piawai menyegarkan suasana.

Penampilan band dari SMP Sang Timur mengawali acara ini sekitar pukul 10.30, dilanjutkan dengan doa oleh Suster Maria Asumpta, PIJ, dan sambutan pembuka oleh Romo Noel.

Acara minggu panggilan kali ini berbeda dengan tahun lalu, Expo Minggu Panggilan. Tahun ini panitia, Seksi Panggilan Paroki St Bernadet yang dikomandani Gregorius Sofyan bekerja sama dengan Sie KKS, menyemarakkannya dengan membuat talkshow bertajuk Hidup Membiara di Zaman Now.

Arya1-ok_1

 Band SMP Sang Timur membuka dan menutup acara.

Talkshow dengan pembicara utama Romo Sylvester Asa, CICM, yang akrab disaba Romo Syl, itu dipandu oleh Bapak Supri Jawir dari wilayah Ignatius Loyola yang piawai mencairkan suasana dengan canda-candanya.

Membaca Poster

Romo Syl membagikan kisah perjalanan panggilannya menjadi seorang Imam dengan cara yang ringan, penuh canda, namun mudah dimengerti oleh para peserta yang umumnya anak-anak sekolah itu.

Lahir dan dibesarkan di bagian timur Indonesia, tepatnya Atambua, NTT, Romo Syl, mengaku sudah tertarik untuk hidup membiara sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun ia baru mantab menjalani hidup panggilan sebagai imam sewaktu SMA setelah membaca poster yang bertuliskan: “Beranikah Anda Bermimpi? CICM berani bermimpi, mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus.”

arya6_1

Jassen Novaris juara favorit lomba fotografi.

Ia kemudian bergabung dengan tarekat CICM. Jalan panjang dan berliku dilaluinya selama proses menjadi seorang Imam. Dukungan dari keluarga yang selalu membuatnya semangat dan yakin dalam menjalankan panggilan ini. Romo Syl juga mengatakan, peranan keluarga sangat besar dalam menumbuhkan benih-benih panggilan dalam dirinya.

Ibunda Romo Syl yang adalah seorang religius mampu memberinya teladan dalam iman, sedang ayahnya yang humoris sedikit banyak mempengaruhi gaya dan pembawaan Romo berambut keriting ini baik saat memberikan kotbah maupun dalam kesehariannya.

Menjadi seorang Imam memberikan kesan tersendiri baginya. Selama masa frater Romo Syl menghabiskan waktu untuk belajar filsafat dan teologi di Filipina, lalu ditugaskan di Jepang. Selama masa-masa itu ia mendapat banyak wawasan sekaligus tantangan untuk mempelajari budaya dan bahasa baru demi tempat berkaya dan pelayanannya yang berada di luar Indonesia.

Arya5_1

Penyerahan hadiah kepada juara 3 lomba fotografi.

Romo Syl tidak mengalami kesulitan menjalani hidup susah dan prihatin selama proses manjadi seorang Imam. “Karena sejak kecil saya sudah terbiasa merasakan hidup miskin dan sederhana,” katanya. Satu pesan yang diberikan oleh Romo Syl, bahwa kerendahan hati adalah salah satu kunci baginya untuk tetap setia pada panggilannya.

CICM di Indonesia

Romo Syl juga menceritakan sejarah singkat tarekat CICM. CICM adalah singkatan dari Congregatio Immaculati Cordis Mariae yang berarti Kongregasi Hati Tak Bernoda Maria. CICM berdiri pada 28 November 1862 berpusat di Scheut, Brussels, Belgia. Sang pendiri P. Theopile Verbist merasa prihatin dengan keadaan anak-anak miskin di Tiongkok.

kevin-ok_1

Foto bareng siswa-siswi peserta talkshow.

CICM memulai pelayanan pertama di Indonesia pada tahun 1937 tepatnya di Ujung Pandang (sekarang Makassar), Provinsi Sulawesi Selatan. Karya pelayanan CICM tidak hanya meliputi bagian tengah dan timur Indonesia. Di Keuskupan Agung Jakarta sendiri, CICM dipercaya untuk melayani di Paroki Kristus Salvator, Slipi, Petamburan, Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Indah, serta Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet Ciledug. 

Tepat pukul 12.00 siang talkshow selesai dan dilanjutkan makan siang ditemani band dari anak-anak SMP Sekolah Sang Timur, Ciledug. Acara dilanjutkan dengan pembacaan pemenang dan pembagian hadiah lomba minggu panggilan, dan foto bersama menutup seluruh rangkaian acara.

WhatsApp Image 2019-05-12 at 21.44.46-ok

Foto bareng panitia acara dan para frater Tarekat CICM.

Semoga acara tersebut mampu menumbuhkan benih-benih panggilan dalam diri kita semua. Beranikah kamu menanggapi panggilanmu?

Teks: Yolla

Foto-foto: Arya, Kevin, Jassen Novaris,  Ny Valen

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna